Mengenal Teknologi Penghijauan Zaman Now: Drone untuk Penghijauan Hutan, Taman Atap dan Dinding Hijau yang Menyejukkan Kota

 




Penggunaan teknologi drone atau pesawat kecil yang dilengkapi dengan remote control sebagai pengarahnya telah meningkat pesat beberapa tahun terakhir. Teknologi drone ini dapat digunakan  dalam penghijauan hutan. Teknologi drone dinilai lebih murah, ramah lingkungan serta mampu menjangkau areal yang cukup luas dengan menggunakan teknologi GPS serta sistem pengendali (remote control) dari petugas di lapangan (Azahari dan Hadiuotomo, 2022).

Keterbatasan lahan  telah mendorong kreativitas para arsitek bersama arsitek lanskap untuk mulai mengintroduksi pembangunan taman atap (green roof , roof garden) dan dinding hijau (green wall, vertical garden) pada bangunan. Meski tidak menambah luasan Ruang Terbuka Hijau privat, tetapi upaya ini patut didukung karena secara ekologi mampu membantu meningkatkan kualitas lingkungan dengan menurunkan iklim mikro, menyerap air dan polutan udara (Joga dan Ismaun, 2021).

 

Drone untuk Hutan

Petani di seluruh dunia terus berupaya mengurangi biaya dan meningkatkan hasil panen. Penggunaan drone memungkinkan pekerja pertanian unuk mengumpulkan data, mengotomatiskan proses yang berlebihan dan meningkatkan produksi. Raptor Maps, misalnya, adalah startup analitik pertanian yang mengandalkan drone untuk  membantu petani memprediksi masa depan mereka dengan lebih baik (Sabry, 2021).

Bidang lain di mana drone mendapatkan momentum adalah budidaya tanaman. Perusahaan seperti DroneSeed, yang  mengumpulkan 5,1  juta Dolar AS dari Modal Sosial pada tahun 2017, membuat pekerjaan lebih sederhana dengan menggunakan drone untuk penyebaran benih udara. Drone juga telah digunakan dalam kapasitas penelitian untuk menyerbuki bunga (Sabry, 2021).


Manfaat drone (Unmanned Aerial Vehicle) selanjutnya adalah untuk menegakkan hukum. Misalnya untuk menjaga perbatasan antarnegara. Aktivitas di sekitar perbatasan antar negara bisa dipantau dengan baik menggunakan drone. Jadi, adanya pelanggaran yang terjadi bisa segera diketahui dan diselesaikan masalahnya. Di dalam internal negara, drone juga bisa dimanfaatkan di berbagi bidang dengan sangat baik. Misalnya untuk menjaga area hutan lindung dari penebangan liar. Sebab selama ini masalah klasik kerusakan hutan adalah karena luasnya areal hutan yang kadang tak terjangkau oleh pengawas hutan (Subhan et al., 2018)

Peningkatan dalam  teknologi drone telah memungkinkan pengelola hutan termasuk masyarakat adat dan komunitas hutan untuk memantau hutan mereka serta menemukan dan mendokumentasikan kegiatan ilegal juga lebih efisien daripada sebelumnya. Peningkatan aksesibilitas drone, kamera dan teknologi seluler mengantarkan era baru pemantauan hutan bersama. Kemajuan ini meningkatkan transparansi informasi dan pengambilan keputusan terkait hutan dan memperlihatkan ancaman deforestasi dan titik api (hotspots) yang sebelumnya tidak terdeteksi (Pratomo, 2021).

Perusahaan AirSeed Technology menggunakan drone untuk memerangi deforestasi di Australia. Airseed melaksanakan reboisasi dan memerangi deforestasi dengan menggabungkan teknologi drone dan kecerdasan buatan berbasis data. Sehingga drone mampu menyebarkan benih tanaman secara mandiri tanpa pengawasan manusia. Perangkat drone octocopter yang canggih digunakan oleh AirSeed dalam proses penyebaran benih.  Masing-masing drone dapat menyebarkan 40.000 benih pohon per hari. Dan sejauh ini, AirSeed telah menanam lebih dari 50.000  bibit pohon di berbagai kawasan di Australia (Firdhani, 2022).

 


Video 1. Drone AirSeed untuk Menanam Benih 

 

Vertical Garden

Teknologi vertical garden atau disebut juga  sebagai green wall merupakan salah satu alternatif desain untuk green building. Green wall memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan sekitarnya. Green wall dapat membantu mengurangi efek dari polusi udara dan meningkatkan kualitas udara, membantu menurunkan temperatur dalam ruangan secara langsung yang berarti dapat membantu mengurangi efek dari UHI (Urban Heat Island) (Young dan Kosasih, 2019).

UHI ditandai dengan terjadinya peningkatan suhu di kota, di mana pusat kota mempunyai suhu lebih tinggi dibandingkan dengan daerah di sekitarnya (Maru, 2015). Urban Heat Island mempunyai implikasi penting bagi kesehatan dan  kenyamanan manusia, polusi udara, neraca energi, dan perencanaan kota. Urban Heat Island di kota  beriklim panas tidak menguntungkan karena menyebabkan kapasitas udara semakin banyak  menyimpan udara panas dibandingkan udara dinginnya, selain itu juga meningkatkan ketidaknyamanan manusia, dan meningkatkan konsentrasi polusi udara. Meningkatnya jumlah populasi berarti akan meningkatkan intensitas Urban Heat Island yang akan mempengaruhi kehidupan manusia (Ardi et al., 2010).


Gambar 1. Vertical Garden Bosco Verticale di kota Milan


Saat ini vertical garden sedang happening alias lagi tren di tanah air. Vertical garden atau bisa disingkat vega adalah konsep taman tegak. Aneka tanaman diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak. Konsep ini muncul gara-gara lahan yang tersedia terbatas. Tahu sendiri sekarang di kota-kota besar nyari tanah untuk tanam tumbuhan susahnya minta ampun (Jaya, 2017).

Kesulitan mendapatkan tanah nggak cuma dialami di Jakarta, tetapi juga di Prancis. Di negara-negara yang tanah sudah mahal seperti Prancis, vertical garden bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi sebuah keharusan. Saat berkunjung ke kantor Centre National des  Operations Ferroviaires, SNCF, Paris, saya melihat vertical garden terbaik di Eropa. Sebenarnya lumrah kalau Prancis punya vertical garden terbaik. Sebab, konsep vega ini memang dikenalkan di Prancis pada 1994. Seorang ahli botani bernama Patrick Blanc yang mengenalkan (Jaya, 2017).

Patrick juga mengamati vegetasi di berbagai air terjuan di dunia, bahkan vegetasi-vegetasi yang tumbuh secara vertical di bebatuan berbagai negara. Ia pun akhirnya menerbitkan sebuah buku tentang vertical garden dengan judul "Vertical Garden, from The Nature to The City". Konsep  vertical garden di alam, dibuat kembali di perkotaan, baik di rumah hingga ke gedung-gedung pencakar langit. Bukan hanya di areal outdoor, tetapi vertical garden juga menjadi ornamen hidup dalam desain indoor (Budiarto, 2013).


Gambar 2. Vertical Garden karya Patrick Blanc di Paris



 

Roof Garden               

Roof garden diterapkan pada lantai atas bangunan dengan prinsip hampir sama dengan konsep penanaman di dalam pot. Namun, skala medianya agak lebih besar karena berkaitan dengan bangunan yang ada. Dalam menerapkan roof garden, dasar lantai yang akan dijadikan taman terlebih dulu dilapisi dengan lapisan waterproof. Selanjutnya baru di atas lapisan tadi diisi tanah yang akan menjadi media untuk menanam berbagai tanaman. Tujuan pelapisan waterproof tadi supaya air dari tanah tadi tidak tembus masuk ke lapisan beton atau dak lantai atas (Utama et al., 2019).

            Roof  garden tampaknya cukup mampu  menjawab keterbatasan lahan, yaitu  dengan menggunakan atap yang selama ini belum termanfaatkan (Arisanti et al., 2020). Sulistyantara et al. cit. Arisanti et al. (2020) menambahkan bahwa keberadaan bangunan sekarang dapat digunakan untuk menciptakan kota yang ekologis, yaitu dengan meningkatkan biomassa kota, meningkatkan kadar oksigen sekaligus menurunkan kadar karbondioksida, sebagai filter alami polusi  udara, mengendalikan iklim mikro serta sebagai alternatif tempat produksi bahan makanan.



Gambar 4. Roof Garden

           

            Roof garden adalah inovasi sekaligus solusi dalam pembuatan ruang terbuka hijau yang semakin sulit didapatkan di kota-kota besar sekarang ini. Roof garden atau taman atap dapat menjadi solusi dalam pembuatan taman jika lahan yang tersedia pada rumah, apartement, kantor, dan sebagainya memiliki lahan yang sempit. Taman atap dapat diterapkan pada gedung-gedung bertingkat yang bagian atapnya dapat diletakkan pot atau tanaman merambat. Taman atap dapat mengembalikan kondisi alami lokasi yang dahulu kala merupakan kawasan hutan kemudian dibangun gedung. Untuk menghijaukannya kembali dapat dilakukan salah satu cara tersebut yaitu membuat taman atap (Chandra, 2018).

 


Video 2. Roof Garden di Ulsan , Korea Selatan


Green Roof

Kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan untuk penghijauan merupakan permasalahan besar di wilayah perkotaan. Pencemaran udara dan tidak sejuknya suatu ruangan juga menjadi permasalahan tersendiri. Penggunaan AC untuk menyejukkan ruangan pada faktanya membutuhkan energi yang besar dan juga memicu masalah lingkungan lainnya, misalnya pemanasan global. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penghijauan di atas atap, atau disebut dengan green roof     (Efendi dan Indriyani, 2022).

Seringkali adanya mispersepsi antara green roof dengan roof garden, maka perlu dipahami bahwa kedua hal tersebut memiliki konsep yang berbeda satu sama lain. Roof garden yaitu adanya tanaman dalam suatu wadah pot tanaman sehingga terbentuk suatu taman. Berbeda halnya dengan green roof yaitu sebuah struktur bangunan terintegrasi yang memungkinkan adanya sistem drainase di seluruh permukaan atap yang menekankan pada pengelolaan stormwater (P2KH, 2016).


Gambar 5. Green Roof


Selain  dengan menggunakan material yang  dapat   melindungi bangunan dari panas, dapat pula menerapkan green roof untuk mengurangi transmisi panas melalui atap. Green roof memiliki sifat termal yang  baik  karena dalam  perancangan green roof dibutuhkan  lapisan  kontruksi yang tebal.  Selain itu sebagian besar radiasi panas dari matahari akan            diserap oleh tanaman untuk penguapan dan transpirasi (Putri et al., 2019).

 

Kabar Gembira sekaligus Pekerjaan Rumah (PR)

Menghirup udara sejuk alam hijau nan rindang--teduh dan damai, tentu dambaan setiap insan, apalagi yang setiap hari bergelut dengan bising suara raung kendaraan bermotor, asap tebal knalpot kendaraan, debu-debu beterbangan di setiap jalan yang dilintasi seperti umumnya suasana kota besar. Harapan yang besar terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan juga tekanan ancaman global warming (pemanasan gobal) membuat banyak pihak semakin sadar arti pentingnya menjaga lingkungan yang kemudian diekspresikan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah penanaman atau penghijauan yang semakin gencar digalakkan belum lama ini  (YAPAMA, 2009).

Pembangunan sarana lingkungan perkotaan perlu didasari suatu perhitungan matang, baik komposisi sarana lingkungan perkotaan--apakah jumlahnya sudah sesuai, lebih atau bahkan kurang. Di samping itu, juga perlu pertimbangan dampak dari pembangunan atau suatu sarana.  Dalam hal ini harus benar-benar memahami risiko pembangunan yang dilakukan sebelum mengambil suatu keputusan. Syukur-syukur dapat berkembang untuk mewujudkan impian kota ideal, kota hijau yang layak huni oleh manusia (Heston dan Nugraha, 2017).

Semoga dengan adanya teknologi bangunan seperti vertical garden, roof garden, green roof menjadi jawaban untuk terciptanya oase di tengah kota. Tak lupa pula pemanfaatan drone di negara-negara maju  sebagai pengawasan pembalakan liar dan penyebaran benih patut diapresias, ditiru, dan wajib menjadi perhatian bersama. Ini adalah sebuah kabar menggembirakan sekaligus PR.

 

AMIKOM.AC.ID

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ardi, I.R., M.S. Lubis, dan Y. Fitrianingsih. 2010. Analisis Urban Heat Island dalam Kaitannya terhadap Perubahan Penutupan Lahan di Kota Pontianak. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah 2(1): 1-10.

Arisanti, A., A. Munandar, dan T. Prawitasari. 2010. Adaptasi Anatomis Pohon pada Roof Garden (Studi Kasus: Kondominium Taman Anggrek, Jakarta). Jurnal Lanskap Indonesia 2(2): 69-75.

Azahari, D.H. dan K. Hadiutomo. 2022. Membangun Rice Estate untuk Kesejahteraan Petani. IPB Press, Bogor.

Budiarto, S. 2013. Inspirasi Desain dan Cara Membuat Vertical Garden. PT AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Chandra, K.E.P. 2018. Strategi Peningkatan Luas Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Jumlah Penduduk (Studi Kasus: Kecamatan Makassar, Kota Makassar). Departemen Perencanan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Hasanuddin Gowa. Skripsi.

Efendi, R. dan Y.A. Indriyani. 2022. Mini-Review: Green Roof as a Greenery Solution in Densely Populated Areas and Energy Saving in Buildings. Jurnal Media Mesin 23(2): 91-98.

Firdhani, A.R. 2022. AirSeed Sebar 40.000 Benih Pohon dengan Drone. <https://www.greeners.co/ide-inovasi/airseed-sebar-40-000-benih-pohon-dengan-drone/>. Diakses tanggal 8 Juli 2022.

Heston, Y.P. dan D.H. Nugraha. 2017. Oase di Tengah Kota: Kota Ekologis dan Penyiapan RTH. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Ismaun, I. dan N. Joga. 2011. RTH 30%! Resolusi (Kota) Hijau. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Jaya, B.K. 2017. Backacker KW: Ngider ke 7 Kota di Prancis-Jerman. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Maru, R. 2015. Urban Heat Island dan Upaya Penanganannya. <https://journal.ipb.ac.id/index.php/jli/article/view/5728>. Diakses tanggal 14 Juli 2022.

P2KH. 2016. Mewujudkan Konsep Green Roof pada Atap Bangunan. <http://sim.ciptakarya.pu.go.id/p2kh/knowledge/detail/mewujudkan-konsep-green-roof-pada-atap-bangunan>. Diakses tanggal 14 Juli 2022.

Pratiwi, I.A. 2020. Selamat Tinggal Hutan Kota, Selamat Jalan Mitos. In: S. Sukmawan (Eds.) Senjakala Bumi: Serampai Esai Masa Pandemi. Universitas Brawijaya Press, Malang, p: 151-158.

Pratomo, R.H.S. 2021. Hutan Tropis dan Lingkungannya. In: E. Apriyanti (Eds.) Konsep-Konsep Ekologi dalam Pembangunan Berkelanjutan. CV Media Sains Indonesia, Bandung, p: 75-92.

Putri, P.T.S.S., W. Setyaningsih, dan T.Y. Iswati. 2019. Aspek Ruang Hijau pada Desain Perpustakaan untuk Mencapai Bangunan yang Nyaman dan Ramah Lingkungan. Senthong 2(1): 53-64.

Riyadi, S., A. Jodhi, A. Karim, A. Zhafirah, dan Murniati. 2021. Pelatihan Vertical Garden Sebagai Wujud Peningkatan Kepedulian Terhadap Lingkungan Dukuh Duwet, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Jurnal Phedheral 18(1): 75-83.

Sabry, F. 2021. Drone Otonom: Dari Perang Pertempuran hingga Prakiraan Cuaca. <https://play.google.com/store/books/details/Drone_Otonom_Dari_Perang_Pertempuran_hingga_Prakir?id=L-MsEAAAQBAJ&gl=US>. Diakses tanggal 8 Juli 2022.

Subhan, B., D. Arafat, P. Santoso, H. Madduppa, B. Prabowo, R.S. Yugiswara, M.R. Hakim, S.B. Susilo, D. Khairudi, D.S.H.L.M.K. Awak, dan M. Khair. 2018. Drone dan Biodiversitas Kelautan. IPB Press, Bogor.

Utomo, B.J.W., B.T. Ujianto, dan R.S. Febrianto. 2019. Metode-Konsep Arsitektur Hijau pada Lingkup Hunian: Studi Kasus Aplikasi Arsitektur Hijau pada Sistem Ruang Luar. <http://eprints.itn.ac.id/5000/1/1%29%20file%20prosiding%202.pdf>. Diakses tanggal 14 Juli 2022.

Wasista, I.P.U. 2022. Buku Ajar EKO DESAIN. Penerbit Lakeisha, Klaten.

YAPAMA. 2019. Saatnya Anak Muda Jadi Pelopor Lingkungan. Reformata 101: 13.

Young, S. dan A.P. Kosasih. 2019. Analisis Sistem Pencahayaan dan Penerapan Green Wall pada Mall Grand City Surabaya. <https://ejournal.itn.ac.id/index.php/semsina/article/download/2211/1931/>. Diakses tanggal 14 Juli 2022.

 


Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Responsive Advertisement