SERBA-SERBI PENGASUHAN ANAK: SPEECH DELAY

 


 

 

Ya Allah ...  kenapa lagi itu anak. Aku terus meneguhkan hati kalau keputusan yang aku ambil ini tepat. Hasil dari observasi hari itu adalah anak aku benar-benar "speech delay" alias terlambat bicara. Mau menangis aja rasanya. Merasa bersalah sama diri sendiri.

"Anak baru satu aja kok nggak bisa ngurusnya sih ?"

"Kenapa juga dulu ngasih anak nonton televisi."

"Kenapa dulu gak dengerin peringatan temen ?"

"Kenapa? Kenapa ?"

"Semua salahmu...."

Bermacam-macam perdebatan dalam hati. Tetapi mau bagaimana lagilah. Nasi sudah jadi bubur. Kalau punya mesin waktu, mungkin aku sudah balik ke masa dia masih bayi. Aku tak akan mengulangi kesalahan macam ini lagi (Ziauicha, 2020).

Apakah anak Anda juga mengalami speech delay ? Keterlambatan bicara yang menyebabkan rasa bersalah dengan menuangkan segala keluh kesah seperti disebutkan di atas? Jika  menjawab “tidak” untuk pertanyaan tersebut, Anda boleh merasa lega. Hal ini berarti perkembangan bicara anak Anda bisa dikatakan sesuai dengan milestones/tahapan perkembangan yang ada. Lalu bagaimana bagi Anda yang menjawab “ ya”.

Baik...mari tenangkan diri Anda terlebih dahulu, karena selanjutnya kita akan mengupas mengenai speech delay, dan mudah-mudahan informasi dalam artikel ini dapat memberikan gambaran mengenai kondisi anak Anda, termasuk mengapa ia bisa mengalami kondisi ini, serta dan langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk membantunya berbicara lebih lancar (Delia dan Suwandi, 2021).

 

Speech Delay dan Dampaknya

Anak dikatakan terlambat berbicara, jika pada usia kemampuan produksi suara dan berkomunikasi di bawah rata-rata anak seusianya. Pada hakikatnya, aspek berbicara merupakan salah satu aspek perkembangan seorang anak yang dimulai sejak lahir. Kemampuan anak untuk berkomunikasi dimulai dengan reaksinya terhadap bunyi atau suara ibu bapaknya, bahkan di usia 2 bulan anak sudah menunjukkan senyum sosial pada semua orang yang berinteraksi dengannya. Di usia 18 bulan anak sudah mampu memahami dan mengeluarkan sekitar 20 kosa kata yang bermakna. Sedangkan di usia 2 tahun sudah mampu mengucapkan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata, misalnya “mama pergi”, “aku pipis”. Jika anak tidak mengalami hal tersebut bisa dikategorikan anak tersebut mengalami keterlambatan berbicara (speech delayed) (Istiqlal, 2021).

Sedangkan menurut Papalia cit. Ladapase (2021), anak yang terlambat bicara adalah anak yang pada usia 2 tahun memiliki kecenderungan salah dalam menyebutkan kata, usia 3 tahun memiliki perbendaharaan kata yang buruk dan pada usia 5 tahun masih mengalami kesulitan dalam menamai objek.

Sementara itu, anak-anak yang mengalami language delay mungkin dapat mengucapkan kata-kata secara tepat, namun mungkin hanya mampu menggabungkan dua kata bersama. Jelas bahwa speech delay tidaklah sama dengan language delay, namun memang keduanya saling berkaitan satu dengan yang lainnya (Delia dan Suwandi, 2021).

 


Gambar 1. Definisi speech delay menurut Generos. Sumber: https://www.instagram.com/p/CFdC4c6nejh/

 

Keterlambatan berbicara pada anak akan memiliki dampak pada tahap perkembangan selanjutnya yang dapat menyebabkan rasa rendah diri anak, ketidakkepercayaan diri, sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungannya seperti anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya akan merasa tidak nyaman untuk bergabung dengan teman-temannya dan sulit untuk menerima pemahaman dalam proses pembelajaran di sekolah (Hutami dan Samsidar, 2018).

Keterlambatan bicara tidak hanya memengaruhi penyesuaian sosial dan pribadi pada anak (Diana et al., 2022). Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca, dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian  akademik yang kurang serta menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda.Selanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa, akan mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psiko-sosial (Putri, 2020).

 

Gambar 2. Dampak  Speech Delay. Sumber: https://www.instagram.com/p/Buu4jePhvol/

 

 

Deteksi  Dini Keterlambatan Bicara pada Anak

Orang tua tidak perlu membandingkan perkembangan buah hati dengan anak lain, karena setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Termasuk pada tahapan berkomunikasi. Sebaiknya, setiap orang tua rutin berkonsultasi pada dokter dan juga memiliki tabel tahapan bicara untuk anak, agara bisa memastikan dengan baik perkembangan bicara atau berkomunikasi pada anak. Speech delay atau keterlambatan bicara pada anak  memang terkadang sulit untuk disadari oleh orang tua (Widyastuti, 2019).

Gambar 3. Tabel Pola Normal Perkembangan Bicara dan Bahasa Anak (Shetty cit. Hartanto, 2018)

 

Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan hambatan tersebut. Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini. Kegiatan deteksi dini ini melibatkan orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut. Dalamdeteksi dini tersebut harus bisa mengenali apakah keterlambatan bicara anakmerupakan sesuatu yang fungsional atau yang nonfungsional. Keterlambatanbicara fungsional merupakan penyebab yang sering dialami oleh sebagian anak.Keterlambatan bicara golongan ini biasanya ringan dan hanya merupakan ketidakmatangan fungsi bicara pada anak. Pada usia tertentu terutama setelah usia dua tahun, anak tersebut akan membaik. Tetapi bila keterlambatan bicara tersebut bukan karena proses fungsional (non fungsional) maka gangguan tersebut harus lebih diwaspadai karena bukan sesuatu yang ringan, maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut (Anggraini, 2011).

Pengucapan kata-kata yang tidak jelas dan tepat menjadi ciri khas anak yang mengalami keterlambatan bicara. Kondisi ini banyak terjadi tidak hanya pada anak di satu daerah, namun menjadi masalah global (Moreno, 2015). Kriteria ini menjadi deteksi awal anak denganketerlambatan bicara, dengan sebelumnya dilakukan screening tentang apakah ada masalahfisik penyerta. Anak dengan keterlambatan bicara akan sulit dalam mengucapkan kata-katadengan tepat dan benar. Artikulasi dan gerak bibir serta lidah terlihat kaku, serta suara yang dikeluarkan lirih (Tjandrajani et al., 2016).

Center for Community Child Health cit. Fauzia et al. (2006) juga menuliskan beberapa ciri- ciri pada anak yang menandakan adanya permasalahan pada bicara anak. Ciri yang pertama dapat dilihat dari kontak mata anak. Anak yang memiliki masalah berbicara cenderung memiliki kesulitan dalam menjaga kontak mata, hanya melihat seseorang atau sebuah benda dengan waktu yang tidak lama. Bermasalahnya kemampuan bicara anak juga dapat dilihat dari gerakannya. Anak terlihat hanya sedikit sekali menggunakan gerakan simbolik seperti melambaikan tangannya. Selain itu, anak juga hanya menggunakan sedikit sekali konsonan dan anak sering mengeluarkan kata atau kalimat yang tidak jelas seperti bayi.

 

Namun biasanya masalah yang di alami anak-anak yang menderita speech delay yaitu :

(1) Sangat aktif

(2) Sulit berkonsentrasi

(3) Sulit mengatur emosi

(4) Tidak terampilbersosialisasi

(5) Sulit menemukan kata-kata yang ingin diucapkan

(6) Kekurangan daftar kosa kata dan kesulitan pemahaman bacaan

(7) Sulit menyusun kalimat dan gramatika

(8) Tidak terampil bercerita

(9) Sulit menghafal

(10) Bermasalah pada konsep diri dan rasapercaya diri

(11) Pelamun

(12) Takut sebelum maju perang.

(Hidayat, 2022).


 

 

 


Gambar 4. Ringkas saja, ciri-ciri anak yang mengalami speech delay. Sumber:
https://www.instagram.com/p/CQ3K6TYtgmT/

 

 

Penyebab Speech Delay

Keterlambatan dan gangguan bicara ada banyak faktor menjadi penyebab. Penyebab keterlambatan bicara pada anak dapat berasal dari kelainan yang terjadi di jaringan otak ketika anak masih kecil dalam kandungan maupun penyakit yang didapat setelah lahir. Kelainan yang terjadi seperti retardasi mental akibat keterlambatan proses pematangan saraf dalam kandungan, gangguan bicara ekspretif, autism, gangguan perkembangan yang mengenai banyak system, keterlambatan perkembangan global (Ratih dan Nuryani, 2020).

Salah satu penyebab speech delay adalah anak tidak bisa mendengar. Sifat anak dasarnya adalah menirukan, ketika dia meniru, anak bisa mengucapkan. Jadi ketika anak tidak bisa mendengar dia akan kesal karena merasa tidak mengerti apa yang dikatakan orang lain. Akhirnya anak juga tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan sehingga menjadi bingung, stres, dan marah. Itulah yang membuat anak menjadi tantrum, ketika dia speech delay yang disebabkan oleh gangguan pendengaran (Generos, 2022).

Gangguan bicara juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung proses tersebut seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara (Masitoh, 2019).

Penggunaan bahasa kedua (Second Langunge) juga dapat menjadi penyebab anak mengalami keterlambatan dalam berbicara. Bahasa kedua yang dimaksud ialah penggunaan bahasa Indonesia danbahasa Jawa. Penggunaan bahasa kedua yang menyebabkan anak bingung sertasalah dalam mengekspresikan perasaan mereka terhadap teman sebaya maupun orang dewasa yang ada disekitarnya sehingga menjadikan mereka menarik diri dari lingkungan sosialnya. Selanjutnya gaya bicara/model yang ditiru menjadi salah satu faktor anak terlambat dalam berbicara dikarenakan sikap atau perlakuan yang ditunjukkan oleh orang dewasa di sekitar anak kurang baik atau tidak sesuai. Gaya bicara atau model yang ditiru subjek saat berada di sekolah tidak sejalan dengan di rumah, dikarenakan pola pengasuhan yang diterapkan d irumah cenderung mengikuti kemauan anak serta penggunaan bahasa yang tidak konsisten yang menyebabkan anak terlambat dalam berbicara (Rohmah et al., 2018).

Keadaan psikis orang tua terutama ibu ketika hamil dan keadaan setelah melahirkan juga amat sangat mempengaruhi perkembangan bicara anak. Tingkat daya stress yang rendah pada psikis orang tua dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan bicara anak (Herawati et al., 2020).

Namun, ternyata penyebab tertinggi dan sering luput dari perhatian orang tua adalah karena kurangnya paparan bahasa atau interaksi dialog yang didingar anak. Sehingga anak tidak memiliki dan mengenal kata-kata yang harus ia keluarkan (bicarakan). Ia tidak memiliki stok kata-kata untuk ia sebutkan. Anak hanya sibuk main sendiri dengan segudang mainannya  atau tontonannya, sedangkan orang tua juga asyik sendiri dengan kerjaan dan kesibukannya. Sehingga anak menjadi korban. Ia tidak terbiasa diajak berbicara dan ia tidak terbiasa mendengarkan cerita yang dibicarakan dengan nyaring, sehingga membuatnya terlambat mengeluarkan bahasa pula (Pratiwi dan Musyarifah, 2021).

 

Gambar 5. Penyebab speech delay cukup beragam. Secara umum gambar ini cukup mewakili. Sumber : https://www.instagram.com/p/CPr7otdp6Re/

 

Bisakah penggunaan gadget mempengaruhi komunikasi anak ? Anak yang terlalu lama terpapar penggunaan gagdet di usianya yang belum genap 2 tahun, akan sedikit sekali tabungan kosakatanya. Hal ini dikarenakan jarang terjalin komunikasi dengan orang dewasa di sekitarnya, walaupun tayangan di gadget memiliki suara berupa percakapan atau kata-kata. Otak bayi yang baru akan  berkembang akan kesulitan mencerna kata-kata yang berasal dari tayangan hp yang cukup cepat  untuk kemampuan menerimanya. Belum lagi gerakan bibit dari suara yang didengar, sulit ditangkap anak, karena biasanya tayangan yang disukai anak-anak adalah kartun imajinasi di mana gerak bibir dan suara yang dihasilkan tidaklah sama.Anak-anak butuh kata-kata singkat atau pendek yang terus diulang dan akan semakin jelas jika mereka melihat bagaimana kata-kata tersebut dikeluarkan melalui gerak bibir orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Salah satu faktor anak terlambat bicara (speech delay) adalah karena pengaruh penggunaan hp yang terlalu lama (Nabila, 2021).

Kehadiran orang tua sangat penting dalam memberikan stimulus untuk. Namun, dewasa ini banyak Bunda yang menjadikan gadget sebagai teman untuk anak dalam kesehariannya. Penggunaan gadget pada anak-anak dapat berdampak untuk perkembangan bicaranya. Anak jadi enggan bicara saat bermain gadget dan orang tua juga minim dalam memberikan stimulus kepada anak. Padahal pengungkapan ekspresi ataupun bahasa pada anak ada prosesnya  (Generos, 2022).

Dokter spesialis anak dr. Dian Pratamastuti, Sp.A menyebutkan paparan gadget itu secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan speech delay pada anak. Dengan kondisi yang hampir sama, di mana gadget semakin populer di kalangan masyarakat membuat orang tua harus selalu bijak dalam memberikannya kepada anak, karena tidak dapat dipungkiri akan sangat sulit untuk tidak memberikan gadget di masa serba canggih seperti ini (Generos, 2022).

 

Apa saran Dokter Kepadaku untuk Menangani Speed Delay

Dokter menyarankan beberapa cara untuk mengatasi speech delay pada anak. Yang pertama, dokter memintaku melakukan diskusi yang sederhana pada anak setiap hari. Rajin mengajaknya mengobrol menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengatasi keterlambatan bicara ini. Tidak perlu menggunakan kalimat yang panjang, cukup dengan kalimat yang pendek dan sederhana (Mustofa, 2020).

Rajin mengajak Si Kecil ngobrol menjadi salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi keterlambatan bicara pada anak. Ajak anak berdiskusi mengenai hal-hal yang menarik bagi mereka, misalnya membahas tentang kartun kesukaan atau kegiatan yang dilalui selama satu hari. Tidak perlu kalimat yang panjang, gunakan kalimat-kalimat sederhana  yang mudah dimengerti anak sehingga anak tidak kesulitan untuk menjawab semua pertanyaan ibu. Dengan begini, ibu menciptakan suasana diskusi yang menarik untuk anak, sehingga ke depannya, anak akan tertarik jika ibu kembali mengajak anak berdiskusi (Widyastuti, 2019).

Yang kedua, dokter memintaku lebih sering mengajaknya bernyanyi bersama (Mustofa, 2020). Mengajak anak bernyanyi bersama, dapat memberi anak pengalaman yang berharga dan menyenangkan (Anggraini cit. Mutoharoh et al., 2022). Adapun perolehan bernyanyi yang diharapkan adalah agar anak mampu mendengar dan menikmati lagu, mengalami rasa senang bernyanyi bersama, mengungkapkan pikiran, perasaan, dan suasana hatinya, dan dapat menambah perbendaharaan kosakata melalui lagu (Mutoharoh et al., 2022).

Yang terakhir, membacakan buku cerita atau dongeng (Mustofa, 2020). Mendongeng adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan otak anak. Dongeng dapat mengasah daya pikir dan imajinasi anak, meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Membangun karakter anak, menghangatkan hubungan orangtua dan anak. Dunia anak adalah dunia bermain, dengan metode bermain peran ini diharapkan kemampuan berbicara dan berbahasa anak dapat meningkatkan tanpa mereka sadari karena mereka melakukan nya dengan senang hati dan tanpa paksaan. Hal ini sangat berguna bagi anak agar perkembangannya dapat optimal. Secara luas, mendongeng bias diartikan sebagai membaca cerita atau mengkomunikasikan cerita kepada anak (Muyasiroh et al., 2018).

Cara ini sangat bermanfaat untuk menambahkan perbendaharaan kata anak kita. Banyak hal positif yang dapat kita sampaikan kepada anak dengan cara mendongeng. Melalui mendongeng anak bisa diperkenalkan dengan kosa katabaru seperti, raksasa, salju dan lain-lain yang biasa di gunakan percakapan sehari-hari (Muyasiroh et al., 2018).

Asupan nutrisi otak berbahan herba kuberikan juga berdasarkan saran seorang herbalist. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Aku percaya itu. Kesabaran tak bertepi dan semangat yang pantang surut membuahkan hasil. Dibarengi doa tanpa alpa di setiap sujud, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya (Siregar, 2019). Kalau bunda bingung mencari herbal, saya sarankan mencoba generos. Manfaatnya adalah Generos sebagai nutrisi kecerdasan otak dan generos mengatasi speech delay.

Satu bulan berlalu, dalam sepertiga malamku, aku selalu berdoa dengan penuh keyakinan bahwa anakku pasti bisa berbicara dan mampu mengendalikan emosionalnya. Tepat usia 3 tahun doaku dikabulkan. Alhamdulillah anakku sudah mulai bisa mengatakan beberapa kata meskipun hanya mengikuti apa yang aku ucapkan, tanpa mengerti maknanya. Menurutku ini sudah lebih cukup. Setiap hari aku ajak anakku untuk berbicara, mengobrol, dan bercerita tentang suatu hal. Usahaku membuahkan hasil, di usia 3 tahun 4 bulan anakku sudah cukup lancar berbicara meskipun masih ada beberapa kaya yang sulit ia katakan. Alhamdulillah hanya 3 tahun kami melewati masa itu ya nak, sekarang anakku tumbuh sehat, lancar berbicara, dan pandai membantuku ketika aku melakukan pekerjaan rumah (Rahmawati, 2022).

 


Gambar 6. Cara mengatasi speech delay yang bisa dilakukan orang tua. Sumber:

https://www.instagram.com/p/CTHaY-_BqDz/

 

Penanganan Anak dengan Keterlambatan Bicara Secara Komprehensif

Penanganan keterlambatan perkembangan bahasa kebanyakannya dilakukan hingga anak beranjak dewasa. Orang tua pun pada akhirnya harus kembali belajar lagi. Membantu mempelajari seluk-beluk bagaimana membangun kalimat dan harus pula memahami tata bahasa, dan juga membantu anak dalam membaca buku-buku belajarnya. Mengajari bahasa dan bicara anak-anak gifted terlambat bicara adalah pekerjaan yang lebih sulit daripada mengajari anak-anak dengan pola perkembangan normal (Ardiyansyah, 2020).

Penanganan yang dilakukan terhadap anak dengan masalah speech delay ini bisa beragam. Karena setiap anak yang terlambat bicara ini mempunyai profil perkembangan yang berbeda-beda dari satu anak ke anak lain (Ardiyansyah, 2020).

Anak-anak yang memiliki gangguan bicara  dan bahasa harus sesegera mungkin dirujuk ke ahli patologi bicara dan bahasa sebelum  usia perkembangan bahasa, yaitu 2- 3  tahun. Periode 36 bulan pertama kehidupan  adalah periode kritis perkembangan bahasa. Kecepatan perkembangan bahasa selama periode ini tidak pernah diulang pada waktu lain di kehidupan. Intervensi dini sangat penting, risiko gangguan bicara dan bahasa permanen meningkat dibandingkan dengan teman seusianya yang normal (Vameghi et al., 2015).

Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang dilakukan terapis  pada saat terapi wicara.

1.     Melakukan gerakan untuk memperkuat organ bicara

Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan senam wajah, menggerakkan otot-oto mulut, rahang agar lentur dan fleksibel seingga akan dengan mudah menghasilkan ujaran.

 

2.     Melakukan latihan pengucapan kata-kata secara berulang-ulang

Terapis akan mengucapkan kata biasanya disertai dengan objek tunjuk lalu mengulanginya beberapa kali dan meminta anak (pasien) menirukannya

 

3.     Melakukan terapi dengan bermain

Dalam sesi ini terapi bisa dilakukan sembari bermain, bercerita, menyusun balok yang manan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merangsang proses komunikasi dua arah. Di sela-sela permainan terapis akan meminta anak untuk menirukan atau bertanya secara spontan. Dari kegiatan ini maka diharapkan anak akan bisa berkembang kemampuan komunikasinya.

 

(Sudarwati et al., 2017).

.

Beberapa jenis terapi menurut dr. Widodo Judarwanto, Sp. A. seorang pediatrician :

1.     Terapi Okupasi dan Sensori Integrasi

Okupasi terapi merupakan profesi yang membantu anak penyandang dalam bidang produktivitas yaitu belajar, self care seperti kemandirian dan leisure. Mencakup aktivitas keseharian, seperti menulis, keterampilan tangan, belajar di kelas, bersosialiasi, berpakaian, merawat diri, bermain, memanjat, berayun, melompat, mengemukakan ide, dan menyusun tugas.

 

Terapi sensory integration (SI) dikembangkan oleh dr. Ayres, seorang terapis okupasi dengan latar belakang psikologi. Sensori integrasi merupakan metode yang memproses neurological yang normal di mana kita mengatur sensasi-sensasi sekitar kita untuk digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari agar bisa "survive", belajar, dan berfungsi.

 

2.     Terapi ABA

ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian dan didesain khusua untuk anak autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian)

 

3.     Terapi Wicara

Terapi wicara adalah ilmu yang mempelajari perilaku komunikasi yang normal dan abnormal, yang digunakan untuk memberikan terapi (proses penyembuhan) pada klien yang mengalami gangguan perilaku komunikasi yang meliputi kemampuan bahasa, bicara, suara, dan irama kelancaran. Terapi wicara yang diberikan kepada mereka yang mengalami gangguan komunikasi termasuk di dalamnya adalah gangguan berbahasa, bicara, dan gangguan menelan.

 

4.     Terapi Biomedis

Terapi biomedis dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN (Defeat Autism Now). Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak.

 

(Madyawati, 2017).

 

 

Sebagai patokan tumbuh kembangnya, bila usia 18 bulan belum ada lima kata yang terucap jelas, sebaiknya segera diajak ke klinik tumbuh kembang. Anak akan diperiksa dan menjalani serangkaian tes oleh dokter dan diberikan jenis terapi yang sesuai dengan penyebab speech delay-nya.

Jadiii....

Ayo kita teguhkan hati

untuk mengubah diri

biar tidak mudah emosi

atau terlalu bergantung pada gadget dan televisi.

Untuk mencapai hal besar, diperlukan usaha yang besar pula.

Segala lelah akan terbayar tak bersisa

saat aanak tumbuh sempurna.

Itulah impian indah yang jadi nyata .... (Sinta, 2017).

Bye bye speech delay !!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Anggraini, W. 2011. Keterlambatan Bicara (Speech Delay) pada Anak (Studi Kasus Anak Usia 5 Tahun). Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Skripsi.

Ardiyansyah, M. 2020. Perkembangan Bahasa dan Deteksi Dini Keterlambatan Berbicara (Speech Delay) pada Anak Usia Dini. Guepedia, Bogor.

Delia, D. dan E. Suwandi. 2021. Serba-serbi Pengasuhan Anak: Menjadi Orangtua yang Sehat Jiwa, Demi Anak yang Bahagia. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.

Diana, Sunardi, Gunarhadi, dan M. Yusuf. 2022. Model I-Teach (Inclusive Teaching) Bagi Guru Paud. Kencana, Jakarta.

Fauzia, W., F. Meiliawati, dan P. Ramanda. 2021. Mengenali dan Menangani Speech Delay pada Anak. Jurnal al-Shifa: Bimbingan Konseling Islam 1(2): 102-110.

Herawati, N.I., C. Rakhmat, dan T. Lestari. 2020. Dinamika Perkembangan Anak Usia Dini. Edu Publisher, Tasikmalaya.

Hidayat, A. 2022. Interaksi Sosial Anak Speech Delay di Sekolah Raudhatul AthFalal Al Barkah Kecamatan Citeras Kabupaten Serang. Jurnal Anak Bangsa 1(1): 1-11.

Hutami, E.P. dan Samsidar. 2018. Strategi Komunikasi Simbolik Speech Delay Pada Anak Usia 6 Tahundi TK Paramata Bunda Palopo. Jurnal Tunas Cendekia 1(1): 39-43.

Istiqlal, A. N. 2021. Gangguan Keterlambatan Berbicara (Speech Delay) pada Anak Usia 6 Tahun. Preschool: Jurnal Perkembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini, 2(2), 206-216.

Istiqlal, A.N. 2021. Gangguan Keterlambatan Berbicara (Speech Delay) pada Anak Usia 6 Tahun. Preschool: Jurnal Perkembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini 2(2): 206-216.

Ladapase, E.M. 2021. Keterlambatan Bicara (Speech Delay) pada Anak Usia 4 Tahun (Studi Kasus di Lembaga Layanan Anak Berkebutuhan Khusus Karya Ilahi). Empowerment: Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang 1(2): 79-85.

Madyawati, L. 2017. Sinta, A. 2017. #SharinyaSinta. PT Mizan Publika, Bandung.

Masitoh. 2019. Gangguan Bahasa dalam Perkembangan Bicara Anak. Edukasi Lingua Sastra 17(1): 40-54.

Moreno, M.A. 2015. Speech and Language Delays in Young Children. JAMA Pediatrics 169 (8): 796.

Mustofa, S. 2020. Gadis di Kamar Nomor 13. Raksya Publisher, Ogan Ilir.

Mutoharoh, Q., R.W. Triningsih, dan H.R. Aryani. 2022. Musik sebagai Stimulasi Perkembangan Bahasa pada  Anak Usia Dini: Literature Review. Jurnal pendidikan kesehatan 11(1): 1 – 15.

Muyasiroh, R.S., Nurjanah, dan M.Z. Haq. 2018. Terapi Mendongeng untuk Perkembangan Bahasa pada Anak Adzif dengan Speech Delay di RA FUN Islamic School Purworejo. Al Athfal (1) 2: 135-147.

Nabila, R. 2021. Kecanduan Gadget pada Anak dalam Tinjauan Psikologi. In: N. Mulyawati (Eds.) Nubar - Mengalihkan Buah Hati dari Kecanduan Gadget (Jabar#75). Rumah Media, Jakarta, p: 67-72.

Pratiwi, W.M. dan Z. Musyarifah. 2021. The Book of Read Aloud. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Putri, S. 2020. Efektivitas Metode Fonik terhadap Penurunan tingkat Keterlambatan Bicara Anak Usia 4-5 tahun di TK Islam Terpadu Al-Ummah Gresik. Fakultas Psikologi. Universitas Muhammadiyah Gresik. Skripsi.

Rahmawati, D. 2022. "The Miracle of a  belief" (Keajaiban dari Sebuah Keyakinan). In: Kodri (Eds.) Menjadi Manusia Kuat. Penerbit Adab, Indramayu, p: 35-41.

Ratih, P. S. dan N. Nuryani. 2020. Analisis Keterlambatan Berbicara (Spech Delay) pada Anak Study Kasus Anak Usia 10 Tahun. Jurnal Konfiks 7(1): 9-15.

Rohmah, M., N.D. Astikasari, dan I. Weto. 2018. Analisis Pola Asuh Orang Tua dengan Keterlambatan Bicara pada Anak Usia 3-5 Tahun. Oksitosin: Jurnal Ilmiah Kebidanan 5(1): 32-42.

Siregar, H. 2019. Bunda, Kunci Suksesmu Ada di Rumah. In: Nubar - Kepompong yang Menjadi Kupu (Sumatera #3) (Eds.) Winy Rifmawati, Rumah Media, Jakarta, p: 103-110.

Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Kencana, Jakarta.

Sudarwati, E., W.C. Perdhani, dan N. Budiana. 2017. Pengantar Psikolinguistik. UB Press, Malang.

Tjandrajani, A., A. Dewanti, A.A. Burhany, dan J.A. Widjaja. 2016. Keluhan Utamapada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita. Sari Pediatri 13 (6): 373.

Vameghi, R., M. Bakhtiar, P. Shirinbayan, N. Hatamizadeh, dan A. Biglarian. 2015. Delayed Referral in Children with Speech and Language Sisorders for Rehabilitation Services. Iranian Rehabil Journal 13(1): 16-21.

Widyastuti, A. 2019. 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Widyastuti, A. 2019. 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Ziauicha, O. 2020. Dalam Dekapan Ibu Kedua. Lovrinz Publishing, Cirebon.

 

 

           

 


Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Responsive Advertisement