Salah satu bentuk dari
implementasi dari soft diplomacy ialah
gastrodiplomasi, gastrodiplomasi merupakan salah satu cara atau tindakan yang
dilakukan dalam memanfaatkan serta mengolah kuliner yang ada di suatu negara,
sehingga mampu menjadi instrumen atau strategi untuk mencapai kepentingan
nasional negara dengan merasakan sendiri cita rasa masakan yang ada, dan juga
masakan tersebut dapat merefleksikan nilai-nilai budaya serta filosofi suatu
negara (Nurarbani, 2018).
Diplomasi budaya dalam bidang kuliner atau dikenal
sebagai gastrodiplomacy saya rasa
cukup penting untuk dikembangkan sebagai strategi pariwisata Indonesia, karena
selain banyaknya jenis makanan Indonesia yang memiliki cita rasa khas yang
berbeda berdasarkan tingkat kemajemukan budaya, hal tersebut menjadi nilai jual
tersendiri dalam memperkenalkan Indonesia kepada dunia secara global melalui
pariwisata. Selain itu sudah jelas dapat digunakan sebagai alat diplomasi
ekonomi, karena selain memperkenalkan budaya makanan Indonesia, strategi ini akan
membantu pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui sektor kebijakan politik luar
negeri dengan banyaknya bantuan permodalan asing yang akan membantu peningkatan
ekonomi masyarakat lokal dengan memberdayaupayakan komoditas lokal ke tingkat
dunia secara global. Karena tidak hanya makanan yang akan kita jual, tetapi
juga bentuk kesenian budaya lain yang titik awalnya diperkenalkan melalui jalur
makanan (Astuti dan Anggraini, 2018).
Thailand merupakan contoh negara berkembang yang sukses
membangun soft power melalui
gastrodiplomasi. Memanfaatkan makanan khasnya, Thailand merubah gambaran
negaranya dari negara wisata seks menjadi negara dengan kuliner lezat.
Pemerintah Thailand membangun sebanyak mungkin restoran Thailand di luar negeri
untuk mempromosikan kuliner dan kebudayaan Thailand di luar negeri. Kuliner
Thailand menjadi dikenal masyarakat internasional dan membantu image negara
tersebut menjadi lebih baik (Pujayanti, 2017).
Linda Morgan dalam thesisnya Diplomatic Gastronomy: Style
and Power at the Table bahkan menyimpulkan ‘the
power symbolism of diplomatic meals, creating the term "diplomatic gastronomy" to describe the prestige based
power interactions that use food as a medium for interaction’.
Sebagai salah satu contoh praktis, pada Januari 2012, Duta Besar Indonesia
untuk Spanyol Adiyatwidi Adiwoso Asmady melancarkan gastro diplomacy dengan
mengundang para Duta Besar untuk mencicipi kuliner Indonesia yang disajikan di
Hotel Intercontineltal, Madrid Spanyol, dengan maksud untuk lebih memperkenalkan
Indonesia khususnya dari sisi kuliner kepada masyarakat di Spanyol (Dewangga,
2017).
Gastronomi
Mendengar istilah gastronomi,
mungkin masih menjadi suatu hal yang asing di telinga masyarakat. Tentunya
masih banyak yang bertanya-tanya, ”apa
sih gastronomi itu ?” Ada yang bilang:
“gastronomo merupakan ilmu tentang
makanan (tata boga)”; ada lagi yang
mendefinisikan “gastronomo adalah sama
halnya dengan wisata kuliner”. Ya, kedua pendapat tersebut memang tidaklah
salah, namun kurang tepat (Wiguna, 2020).
Gastronomi adalah bidang ilmu yang
mempelajarai pangan dan budaya, yang berfokus pada santapan yang lezat (gourmet
cuisine). Orang yang mempercalam gastronomo disebut gastronom, sedangkan
istilah gastronomist digunakan bagi seseorang yang menggabungkan teori dan
praktik dalam mempelajari gastronomi (Winarno dan Winarno, 2017).
Gastronomi juga adalah sebagai segala sesuatu yang
berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman. Sumber lain menyebutkan
gastronomi sebagai studi mengenai hubungan antara budaya dan makanan, di mana
gastronomi mempelajari berbagai komponen budaya dengan makanan sebagai pusatnya
(seni kuliner). Hubungan budaya dan gastronomi terbentuk karena gastronomi
adalah produk budaya pada kegiatan pertanian sehingga pengejawantahan warna,
aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusur asal-usulnya dari lingkungan
tempat bahan bakunya dihasilkan (Simatupang, 2021).
Selain itu, gastronomi juga mencakup pengetahuan
mendetail mengenai makanan dan minuman nasional dari berbagai negara besar di
seluruh dunia (Wikipedia cit. Siregar
et al., 2020). Gastronomi merupakan
panduan mengenai berbagai cara yang melibatkan setiap hal tentang makanan dan
minuman. Kajiannya sangat interdisipliner yang berkaitan dengan refleksi dari sebuah
sejarah, dampak budaya dan suasana lingkungan mengenai “bagaimana (how), di aman (where), kapan (when) dan
mengapa (why)” makanan dan minuman
menjadi penting bagi masyarakat dan industry jasa makanan (Santich cit. Siregar et al., 2020).
Melihat kajian gastronomi seperti di atas, terlihat bahwa
gastronomi memiliki cakupan yang lebih luas dibanding kuliner. Istilah kuliner
yang cukup dikenal di masyarakat kajiannya lebih sempit dibanding gastronomi
karena umumnya hanya berhubungan dengan seni dan keterampilan menyiapkan,
menyusun, memasal, dan menyajikan makanan (Sugiarto, 2021).
Gastrodiplomasi
Gastrodiplomasi merupakan suatu praktek komunikasi negara
ke publik yang menggunakan makanan sebagai elemen. Menurut Paul Rockower,
penggunaan makanan sebagai instrumen diplomasi merupakan cara yang lebih
efektif dalam menjadi perantara komunikasi non-verbal yang dapat menyatukan
semua kalangan. Gastrodiplomasi dilakukan suatu negara untuk melaksanakan
diplomasi public dengan cara mempromosikan masakan khas masing-masing negara,
sehingga dapat meningkatkan kesadaran publik terkait nation brand suatu
negara., juga membantu publik asing untuk membiasakan diri terhadap budaya
negara lain melalui pengalaman kuliner tanpa harus berada di negara tersebut
(Fartiannur, 2018).
Gastrodiplomasi yang merupakan bagian dari diplomasi
publik untuk mencapai brand image kuliner bukan sesuatu diplomasi atau kegiatan
yang dapat berdiri sendiri, dimana dalam pelaksanaannya dibutuhkan peran
aktor-aktor non-state. Aktor non state dalam hal ini memainkan perannya dalam
menggunakan sarana kegiatan dalam mempromosikan identitas budaya dan kunjungan
akan lebih luas dalam mengembangkan peran gastrodiplomasi. Oleh karena itu
peran aktor non state di dalam negeri maupun luar negeri memiliki peran yang
cukup penting dalam mengembangkan gastrodiplomasi (Gaffar, 2022).
Penggunaan makanan sangat efektif digunakan sebagai
intrumen kebijakan suatu negara karena dapat diarahkan kepada kepentingan
politik untuk memperkuat peran negara di forum Internasional dan peningkatan
citra di berbagai kegiatan kenegaraan. Beberapa negara yang berhasil
mengkampanyekan konsep gastrodiplomasi diantaranya: Malaysia pada 2010, membuat
program “Malaysia Kitchen For The World” yang menargetkan 5 (lima) negara
berpengaruh untuk memasarkan kulinernya. Taiwan dengan program “Dim Sum
Diplomacy” menghabiskan anggaran negara mencapai sebesar Rp 17 miliar. Jepang
dengan program Loved Around The World,
meluncurkan kampanye sushi global dan berhasil menambahkan washoku ke daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Dan Korea Selatan
dengan program Bibigo: Hot Stone Taste of Korea, berhasil
mempromosikan kimchi ke dunia (Zhang cit.
Diahtanri et al., 2021).
Thailand
negara ASEAN penggagas pertama
Thailand merupakan negara penggagas pertama praktek gastrodiplomasi
di kawasan Asia Tenggara. Thailand mengambil langkah untuk berdiplomasi melalui
gastrodiplomasi, langkah pertama pemerintah di negara ini mengharapkan adanya
eksalasi restoran dengan cita rasa Thai
bertajuk Global Thai Program pada tahun
2002. Keberhasilan Global Thai Program yang
bertransformasi menjadi Thai Cuisine to
the World, dengan adanya peningkatan kuantitas restoran diseluruh negara
agar makanan otentik Thailand dapat dilegitimasi oleh masyarakat internasional
(Baskoro cit. Grayca, 2021).
Berlanjut pada tahun 2003 Thailand mengeluarkan kebijakan Thailand Kitchen of The World dengan tujuan yang lebih
disempurnakan dari sebelumnya dengan menargetkan hingga tahun 2008 telah
tersebar 20.000 restoran Thailand di seluruh dunia. Program ini mempunyai dua
fokus dan target. Thailand juga mendapatkan beberapa penghargaan atas
pencapaian program tersebut (Gracya, 2021).
Thailand juga menggunakan langkah lain untuk
mempromosikan kuliner dengan memberikan kemudahan visa bagi koki-koki yang akan
bertugas di luar negeri. Bekerja sama dengan Selandia Baru, misalnya, Thailand
memfasilitasi visa koki yang berdurasi hingga tiga tahun dan bisa diperpanjang
Negara Thailand juga mengembangkan Halal Food sebagai strategi baru atau daya
tarik negara dalam menarik wisatawan muslim yang akan berkunjung. Keberadaan
Halal Food sendiri bukanlah salah satu kebijakan Thailand dalam menganak
emaskan wisatawan muslim dan menyampingkan wisatawan nonmuslim. Tetapi
pemerintah berharap dengan adanya Halal Food dapat memberikan dan melayani
wisatawan dengan hidangan yang memiliki standarisasi terhadap keamanan makanan
untuk dikonsumsi khalayak banyak (Purnamasari, 2020).
Masakan
Thailand merupakan warisan budaya bangsa yang dipraktekkan sebagai seni dan
diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, karena banyaknya restoran Thailand
yang tersebar di dunia, dan karena popularitas makanan Thailand yang besar,
banyak restauran di luar negeri mencoba mengambil keuntungan dengan cara dengan
menamai tempat mereka sebagai “restoran Thailand” atau menyajikan makanan Thailand,
tetapi banyak dari restauran tersebut bahkan tidak memiliki menu makanan
Thailand di restorannya. Menyadari situasi ini sangat penting untuk menjaga standar
dan kualitas makanan Thailand, oleh karena itu pemerintahan Thailand mengeluarkan
program “Thai Select”, yaitu bentuk sertifikasi yang nantinya akan diberikan
kepada restauran-restauran Thailand di luar negeri, yang kemudian pada tahun 2012
diperluas untuk mencangkup restoran Thailand lokal dan makanan olahan Thailand.
Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan pengakuan kualitas restauran
Thailand dan produk makanan olahan serta mendorong restauran-restauran Thailand
dan produsen makanan yang memproduksi makanan Thailand untuk meningkatkan kualitas
mereka, sehingga nilai otentik masakan akan tetap terjaga (Fartiannur, 2018).
Cita
rasa masakan Thailand
Thailand
merupakan salah satu negara di Asia Tenggara. Orang Thailand menggunakan
ratusan jenis rempah dan bumbu dalam makanannya. Bagi orang Thailand, makanan
yang enak harus memiliki lima rasa,yaitu manis, pedas, asin, asam, dan pahit
(Hyeon, 2018).
Puncak
keutamaan dari masakan Thailand adalah saus dan bumbu. Dari waktu ke waktu koki
menu masakan Thailand berhasil menggabungkan produk tidak digabungkan pada
penglihatan pertama. Dan rasanya ternyata tidak hanya tak terduga, tetapi juga
gurih. Namun dalan semua hidangan Thailand, keseimbangan yang tentu sangat
penting, selalu diamati. Oleh karena itu semua selera ekstrim selalu harmonis
dalam setiap hidangan (Dapur Kirana, 2012).
Makanan
Thailand dan Indonesia sebetulnya tidak terlalu jauh berbeda. Di Thailand,
makanan yang terkenal di seluruh penjuru dunia adalah massaman curry, tom yum
(baca: tom yam), dan som tum. Massaman curry, jika di Indonesia, kita sebut kari. Tom yum sangat mirip dengan sayur asem
dan salah satu jenis makanan dari Aceh yang memakai banyak asam. Som tum merupakan salada pepaya muda yang
dicampur dengan bumbu kacang. Indonesia juga tentunya memiliki makanan sejenis somtum ini. Begitu juga berbagai jenis
makanan lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu per satu. Hampir sebagian besar
memiliki kemiripan dengan makanan Indonesia (Asmayani et al., 2013).
Saya
akan bercerita soal pad thai. Ini masakan
yang sangat terkenal di Thailand. Kalau dalam rasa, sangat subjektif, tetapi
saya pribadi tidak terlalu suka. Saya lebih suka tom yam atau bihun goreng. Pad
thai adalah makanan yang berisi mie, taoge ukuran besar-besar, udang kecil,
tofu (tahu putih potong kecil-kecil),
dan beberapa bumbu khas Thailand lainnya.Yang ingin pedas,bisa menambahkan
bubuk cabai kering yang ditumbuk. Hal yang sedikit terasa aneh adalah, mereka
menambahkan gula pasir yang disendirikan. Jadi tidak bercampur. Rasa makanan
ini sedikit asam, pedas, dan manis khas Thailand sekali (Ariyanto, 2010).
Bagi
mereka yang kurang suka makanan berbumbu tajam, khao tom atau rice soup bisa
dijadikan pilihan. Orang Thai
biasanya menjadikan khao tom ini
sebagai menu sarapan, tapi sebenarnya cocok pula disantap sebagai hidangan
makan malam yang tidak terlalu berat. Bahannya cukup sederhana, hanya nasi yang
dicampur kuah sup ikan udang atau ayam. Bumbunga memakai jahe dalam jumlah
cukup banyak, sangat menyegarkan serta berkhasiat mengobati gejala flu (Fahrudin,
2013).
Di
Indonesia, ketan sudah menjadi bahan makanan yang familiar. Mulai dari olahan
sederhana yakni dikukus, hingga ketan variasi sudah sangat akrab dengan lidah
kita. Lalu, bagaimana jika ketan dimakan bersama dengan buah mangga ? Ya,
makanan ini sangat terkenal di Thaildan. Mereka menyebutnya sebagai mango sticky rice. Sajian ini
menyuguhkan rasa yang manis, segar, dan sangat gurih (Ismaya, 2017).
Tetapi,
tunggu dulu, tidak hanya itu saja ragam kuliner Thailand. Jika Anda akan dikejutkan
dengan ragam kuliner di sana. Cita rasa makanan Thailand Selatan merupakan
paduan masakan Melayu dan cita rasa khas Thailand yang asam pedas. Sebut saja
makanan gaeng som pla yang artinga
kare asam, makanan paling terkenal dan banyak ditemukan di Thailand Selatan. Hidangan
ini berupa sup ikan yang dibuat kaldu ikan
dicampur pasta kare dan kunyit sehingga berwarna kuning dan biasa
dimasak dengan rebung, pepaya muda atau nanas. Rasa asam, pedas dan wangi
kare-nya tercampur dengan sempurna. Menu ini paling banyak ditemukan di
restoran di Thailand Selatan dan disajikan dengan nasi pada siang atau malam
hari (Hidayat, 2016).
Indonesia
kudu tiru Thailand
Penulis dan pelopor pembentukan komunitas wisata boga
Jalan Sutra, Bondan Winarno, mengatakan Indonesia bisa meniru cara Thailand
mempromosikan kuliner untuk memperkenalkan khazanah makanan tradisional Tanah
Air ke mancanegara. Langkah pemerintah dan pemangku kepentingan Thailand
menggunakan kuliner sebagai media promosi sudah membuahkan hasil. Restauran-restauran
Thailand kini bermunculan di berbagai belahan dunia (Asdhiana, 2014).
Menyadari
hal itu, Pemerintah Indonesia harus membuka peluang partisipasi dan kerja sama
dari seluruh pihak, tidak hanya kalangan pengusaha, tetapi juga diaspora, termasuk
Pekerja Migran Indonesia (PMI), yang berjumlah total 3,2 juta orang. Besarnya
jumlah PMI tersebut merupakan aset yang tidak dapat dikesampingkan begitu saja
dalam konteks upaya bersama mempromosikan gastronomi nusantara. Bahkan
sebaliknya, PMI sektor rumah tangga memiliki potensi besar untuk diberdayakan
sebagai salah satu quick wins dalam
konteks promotor gastronomi karena sebagian besar dari mereka berkecimpung di
urusan dapur (Kurniawan, 2022).
Menurut
pakar kuliner Nusantara, William Wongso, sebelum bicara jauh soal promosi
kuliner Indonesia ke mancanegara, perlu langkah kecil yang bisa dilakukan di
dalam negeri lebih dulu. Masakan daerah sebaiknya jadi kurikulum utama di SMK
tiap daerah. Kita juga perlu tukar ahli masak antardaerah ke daerah lain, kita
sangat kekurangan guru masakan daerah Indonesia. Ini cara dasar untuk
memperkenalkan kuliner Indonesia lebih luas lagi (Rahmawati, 2021).
Kita
tentu tidak hanya dapat berbangga dengan Rendang, Nasi Goreng atau Bakso yang
menjadi World's 50 Best Food dan
disebut-sebut Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ketika kunjungannya
ke Indonesia pada tahun 2010, karena penulis yakin Indonesia memiliki banyak
makanan khas lainnya yang memiliki potensi untuk go international (Gracellia, 2020).
Upaya
memajukan kuliner Indonesia melalui gastrodiplomasi merupakan kerja bersama
yang membutuhkan konektivitas antar kementerian, daerah dan pihak swasta
terkait. Seluruh aktor internasional terkait harus bersinergi dan pemerintah
perlu menyusun roadmap dan grand design untuk pengembangan
gastrodiplomaso dan implementasi penerapan kebijakannya (Pujayanti cit. Nathanael, 2021).
DAFTAR
PUSTAKA
Ariyanto.
2010. Rp1 Jutaan Keliling Thailand Dalam 10 Hari: Chiang Mai-Mae
Sai-Bangkok-Samut Songkhram-Ayutthaya-Phuket. B-First, Yogyakarta.
Asdhiana,
I.M. 2014. Indonesia Bisa Tiru Thailand Promosikan
Kuliner.<https://travel.kompas.com/read/2014/05/24/0742283/Indonesia.Bisa.Tiru.Thailand.Promosikan.Kuliner>.
Diakses tanggal 31 Desember 2022.
Asmayani,
N. dkk. 2013. Storycake for Ypur Life Living Abroad: Kisah-kisah Seru dan Inspiratif tentang Suka
Duka Tinggal di Negeri Orang. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Astuti,
D.M. dan M. Anggraini. 2018. Gastrodiplomasi sebagai Strategi Pengembangan
Pariwisata Kuliner Indonesia dalam Mendukung Program ASTP. Seminar Nasional dan
Diskusi Panel Multidisiplin Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
2018 1(1): 178-187.
Dapur
Kirana. 2012. Cita Rasa Asyik Masakan Thailand. PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Dewangga,
T.A. 2017. Meningkatkan Branding Negara Melalui “Gastro Diplomacy”.
<https://setkab.go.id/meningkatkan-branding-negara-melalui-gastro-diplomacy/>.
Diakses tanggal 31 Agustus 2022.
Diahtantri,
P.I., L.M. Fathun, dan D. Ma'arif. 2021. Strategi Gastrodiplomasi Indonesia
melalui Program Co-Branding Diaspora di Australia Tahun 2018-2020. Journal of
International Relation 1(1) : 52-63.
Fahrudin,
H. 2013. Telusur Bangkok. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Fartiannur,
Y. 2018. Kepentingan Thailand dalam Melakukan Gastrodiplomasi melalui Kitchen
of The World. EJournal Ilmu Hubungan Internasional 6(4): 1565-1582.
Fartiannur,
Y. 2018. Kepentingan Thailand dalam Melakukan Gastrodiplomacy melalui Kitchen
of the World. EJournal Ilmu Hubungan Internasional 6(4): 1565-1582.
Gaffar,
E.K. 2022. Hambatan dalam Pengembangan Gastrodiplomasi untuk Mencapai Brand
Image Kuliner Indonesia di Era Pemerintahan Joko Widodo. JILS 4(1): 1-14.
Gracellia,
J. 2020. Ketika Makanan Menjadi Bagian dari Kebijakan Politik Luar Negeri. <
https://www.kompasiana.com/jeniffer68599/5fd877478ede4806964f55a2/ketika-makanan-menjadi-bagian-dari-kebijakan-politik-luar-negeri?page=all>.
Diakses tanggal 31 Agustus 2022.
Gracya,
A.F. 2021. Strategi Gastrodiplomacy Thailand untuk Mengubah Image melalui
Kitchen of the World Tahun 2003-2010. Skripsi. Program Studi Hubungan
Internasional. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya. Universitas Islam
Indonesia, Yogyakarta.
Hidayat,
Y. 2016.Bertualang Rasa di Thailand Selatan. Majalah Akses Edisi ke-21: 28-29.
Hyeon,
S. B. 2018. Kamus Makanan Sedunia. PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta.
Ismaya,
D. 2017. Kuliner Hits Kekinian: Duit Terkumpul dari Ragam Bisnis Dapur Anak
Gaul. Laksana, Yogyakarta.
Kurniawan,
F. 2022.Promosi Gastronomi Nusantara oleh Pekerja Migran di Tengah Pandemi,
Mungkinkah?.<https://kumparan.com/fajar-kurniawan-1648522107188126386/promosi-gastronomi-nusantara-oleh-pekerja-migran-di-tengah-pandemi-mungkinkah-1y7QXoH1y5c/full>.
Diakses tanggal 31 Agustus 2022.
Nathanael,
G.K. 2021. Komunikasi dan Media Global. CV. Jakad Media Pulishing, Surabaya.
Nurarbani,
N.N. 2018. Upaya Thailand Menggunakan Halal Food Sebagai Soft Power Negara.
<http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/19567>. Diakses tanggal 31
Agustus 2022.
Pujayanti,
A. 2017. Gastrodiplomasi - Upaya Memperkuat Diplomasi Indonesia. Politica 8(1):
38-56.
Purnamasari,
Y. 2020. Strategi Gastrodiplomasi Thailand dalam Meningkatkan Citra Postif
Negara. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Sriwijaya, Indralaya.
Rahmawati, A.A.D. 2021. William Wongso Soal Promosi
Kuliner Lokal ke Mancanegara: Tiru
Thailand!.<https://food.detik.com/info-kuliner/d-5528566/william-wongso-soal-promosi-kuliner-lokal-ke-mancanegara-tiru-thailand>.
Diakses tanggal 31 Agustus 2022.
Simatupang,
V. 2021. Hukum Kepariwisataan Nasional Berbasis Ekspresi Budaya Tradisional
Menuju Negara Kesejahteraan. PT Alumni, Bandung.
Siregar,
R.T., Suwarti, D. Yendrianof, N. Mistriani, M. Butarbutar, I.K. Dewi, P.B.
Purba, dan A.E. Yunianto. 2020. Industri Pariwisata dan Kuliner. Yayasam Kita
Menulis, Medan.
Sugiarto,
E. 2021. Dinamika Pariwisata di Bumi Ruwa Jurai. Penerbit NEM, Pekalongan.
Wiguna, S. 2020. Antara Kita & Upaya Perbaikan
Kondisi Bangsa. Guepedia, Bogor.
Winarno, F.G. dan S.A.A. Winarno. 2017. Gastronomi Molekuler. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

0 Comments