MENGHILANGKAN EGO PRIBADI (EGOIS) MENJADI HERO UNTUK KETANGGUHAN DAN PERTUMBUHAN INDONESIA DI TENGAH PANDEMI

 Nilai kepahlawanan tidak terlepas dari kata pahlawan itu sendiri yang berarti seseorang yang melakukan suatu tindakan diluar dari tindakan kebanyakan manusia pada umumnya. Pahlawan akan mengesampingkan ego pribadinya dengan rela berkorban demi kemaslahatan orang lain. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak (Gunawan, 2019).

Kartun Menggambarkan Anjuran Lawan Covid Bersama. Sumber : 123rf.com


Semangat kepahlawanan, hendaknya setiap warga negara Indonesia memberikan sumbangan tenaga dan pemikiran demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penanaman akan nilai-nilai kepahlawanan diharapkan dapat lebih membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk bersatu padu mengisi kemerdekaan, dengan berupaya sekuat tenaga berpartisipasi menyumbangkan segalapemikiran, tenaga maupun harta atas segala permasalahan yang menimpa bangsa, demi memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Banyak kalimat ataupun semboyan yang bisa diucapkan dalam meningkatkan semangat perjuangan  (Aristya et al., 2017), seperti halnya kalimat “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”.

Perjuangan para pahlawan yang gugur, diperingati tepat setiap tanggal 10 November. Terpilihnya tanggal ini berawal dari perjuangan Bung Tomo dan pemuda-pemuda Surabaya pada 10 November 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pasukan Belanda. Setelah terjadi pertumpahan darah yang memakan ribuan korban jiwa itulah, pada tanggal tersebut yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Dari sedikit sejarah tersebut kita tahu, bagaimanapun kita harus berbangga kepada pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya demi Indonesia. Sekarang pertanyaannya, bisakah kita seperti mereka? Mungkinkah kita menjadi seorang pahlawan? Itu menjadi pertanyaan untuk diri kita sendiri yang jawabannya juga berasal dari kita sendiri (Lestamanta, 2017).

Sebelum kemerdekaan, status pahlawan disandang oleh para pejuang yang mengangkat bambu runcing, tak kenal kasta, agama, bahasa dan suku bahu-membahu merebut kedaulatan bangsa dari tangan penjajah. Hingga akhirnya masa kemerdekaan sudah di tangan pada 18 Agustus 1945 dan titik awal kehidupan berbangsa dan negara pun dimulai. Perekonomian mulai ditata, kehidupan sosial diselaraskan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan penguatan diplomasi dengan negara lain dibangun. Setahap demi setahap, NKRI ikut berkancah di dunia internasional, bukan hanya membahas persoalan ekonomi, sosial, lingkungan, pertahanan dan keamanan, tetapi segala lini kehidupan. Tersebutlah masa pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, Transisi, Reformasi dan kini pemerintahan berhadapan dengan era revolusi 4.0, lalu kini harus menghadapi masa pandemi COVID-19 yang terjadi secara global. Dari lorong-lorong waktu dan perubahan tersebut, selalu ada yang akan tampil menjadi pahlawan (Mappong, 2020).

Kita tahu bahwa pandemi tidak memilih tempat untuk disinggahi, tidak memilih umat beragama mana yang harus dijangkiti, apa lagi memandang ras dan  budaya. Kita memiliki ancama yang sama,oleh sebab itu bersikap egois hanya akan membuat kita mudah ditumbangkan oleh pandemi yang mengganas ini. Kita harus percaya bahwa dengan bekerja sama dari segenap lapisan masyarakat kita akan mampu melawan pandemi COVID-19 ini dan kembali menyehatkan bumi yang kian hari kian terpuruk oleh serangan pandemi. Namun sayangnya tidak jika kita melihat dari sisi realitas. Banyak yang kini sudah mulai bosan dengan slogan protokol kesehatan, bahkan tidak jarang pandangan negatif semakin sering ditunjukkan pada sang pahlawan.Ya. setiap perjuangan pasti akan menghadirkan seorang pahlawan, tidak kercualio perjuangan dalam melawan pandemi COVID-19 ini. Dan yang kita tahu bahwa pahlawan dalam perjuangan melawan pandemi ini ialah mereka para tenaga kesehatan (Parawati, 2021) dan semua warga negara Indonesia takpeduli jabatan,pekerjaan, gender, status sosial,dan agama.

Tulisan ini dipersembahkan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila dan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 tahun 2021 : Indonesia Tangguh Indonesia, Indonesia Tumbuh. Semoga kita semua terus produktif, kreatif, inovatif dan terus tumbuh untuk Indonesia Raya. Karya ini kami persembahkan untuk bangsa dan negara Indonesia. Persembahan dari penulis untuk Indonesia yang tangguh dan bertumbuh. Semoga kita semua sehat, kuat, semangat dan terus berkontribusi bagi bangsa dan negara karena kalian adalah pahlawan Indonesia.

 

Egois kontra dengan ajaran Pancasila

Seperti yang kita ketahui, Indonesia sungguh kaya akan budaya. Dalam sila kedua, yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab" yang dilambangkan dengan rantai emas. Sila kedua ini mengajak kita untuk mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Kita harus saling membantu. Apalagi ada saudara kita yang menderita kesusahan, seperti bencana non alam yang tengah kita alami yaitu Covid-19, kita harus saling membantu dan tidak boleh egois dan saling meringankan beban mereka (Hafid, 2020).

Di era globalisasi ini nilai-nilai luhur Pancasila terus mengalami degradasi khususnya di kalangan generasi muda atau kalangan pelajar. Nilai-nilai luhur Pancasila yang saat ini mulai luntur contohnya sikap acuh tak acuh, sikap ingin menang sendiri, tidak setia kawan dan lain sebagainya. Penyebab lunturnya nilai-nilai tersebut sangat beragam, diantaranya karena kesenjangan sosial atau status sosial, karena sikap egois masing-masing individu, kurangnya pemahaman atau penanaman tentang nilai-nilai peduli sosial, kurangnya sikap toleransi, simpati dan empati (Muhamadi dan Hasanah cit. Achmadi, 2020).

Pancasila berperan penting sebagai dasar kehidupan bersama di Indonesia. Pancasila menghargai seluruh umat beragama di Indonesia, tanpa mengutamakan atau membeda-bedakan salah satu golongan agama. Pancasila ini menjadi lebih sesuai bagi Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam agama. Dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa tidak akan lupa akan Tuhan Yang Maha Esa, yang akan membuat sikap kita menjadi lebih bermartabat dan memiliki nilai moral yang baik, selalu menjunjung tinggi nilai persatuan, selalu berusaha untuk bersikap adil di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun, memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, gotong royong dan sikap tidak egois serta akan tercipta kehidupan yang aman, damai dan tentram, perpecahan pun tak akan terjadi jika terjadi salah paham (Saputra, 2021).

Jangan menjadi orang yang egois. Egois bisa menjadi dalang dari sebuah bencan besar. Kita harus peduli pada diri sendiri, juga harus peduli terhadap orang lain. Agar tidak ada lagi korban yang terserang virus corona dan Indonesia bisa kembali seperti semula. Sikap inilah yang ditakutkan oleh pemerintah saat ini. Jika terjadi, sikap ini akan menimbulkan penjarahan, dan kekacauan sosial karena manusia mementingkan kepentingannya sendiri dan tidak lagi peduli dengan kesulitan atau penderitaan orang lain (Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia, 2020).

Pandemi  virus korona  menimbulkan  seluruh  masyarakat,  termasuk  masyarakat  Indonesia,  masuk  ke  dalam  situasi  yang horor. Selain itu, virus tersebut juga memengaruhi aspek kemanusiaan. Dalam gagasannya,  beliau  berkata  demikian:  “Manusia sudah selalu membutuhkan tangan  orang  lain.  Kita  diajari  untuk  terbuka  kepada  sesama.  Menyalami, menepuk  bahu,  memeluk,  atau  mencium  menguatkan  dan  menyatukan  hati. Tapi, lalu datanglah pandemi itu. Semuanya yang sebelumnya saling menyatukan,  sekarang  malah  memisahkan.  Perasaan  primordial  manusia, ‘takut-bersentuhan’, menjadi tiran keseharian karena orang dan barang menjadi berbahaya. Yang intim dengan tangan kita–pegangan pintu, uang, tombol, layar ponsel–sekonyong-konyong  menjelma  menjadi  ancaman.  Bahkan  tangan  kita sendiri siap berkhianat, kapan pun kita lengah. Si aku menjadi terpencil bahkan dari  tubuhnya  sendiri.  Jika  didikte  rasa  ketakutan  dan  kehilangan  rasa  aman, ego  menjadi  egois (Hardiman, 2015).

Indonesia mempunyai kondisi geografis yang bisa dibilang paling sulit ditangani ketika pandemi. Alasan utamanya karena Indonesia adalah negara kepulauan dan mempunyai luas negara yang besar dan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Faktor ekonomi negara yang tidak mendukung juga menjadi alasan negara ini cukup kesulitan dalam menangani pandemi ini, yang pada akhirnya pemerintah kebingunan dalam mengambil keputusan. Sedangkan negara-negara di sekitar sudah menerapkan lockdown. Karena dirasa terlalu rumit masalah yang dihadapi oleh pemerintah, maka kahirnya pemerintahan daerah mulai mengambil keputusan sendiri. Hal ini menunjukan sisi  positif dari pandemi ini. Muncul pahlawan-pahlawan lokal seperti Gubernur, Walikot, dan Bupati yang entah tujuannya untuk kepentingan bersama atau bahkan untuk kepentingan politiknya sendiri.Lebih baik kita tetap berprasangka baik, toh juga tidak ada salahnya selama perjuangannya membuahkan hail yang baik. Pandemi ini juga menunjukkan kembali sisi positifnya dengan menunjukkan kualitas SDM kita yang masih jauh dari kata baik.Dari sinilah kita tahu bahwa tidak sedikit yang masih egois dengan menimbun masker dan bahan pokok.Sampai ada yang menganggap bahwa pandemi ini hanya sebagai ladang bisnis. Bahkan tidak sedikit yangmenunjukkan kebodohannya dengan tidak menganggap pandemi ini ada dan hanya akal-akal saja. Kurang berkualitasnya SDM kitamenjadi momok bagi dunia pendidikan untuk kembali mengintropeksi diri dan berbenah melakukan perbaikan terus-menerus kedepannya (Abryandoko, 2020).

Pada dasarnya, sikap empati ada dalam diri seseorang namun seringkali diantara kita enggan untuk mewujudkannya karena tingginya sifat egois. Tumbuh dan mengakarnya sifat egois karena kita enggan menumbuhkan sifat empati terhadap situasi dan kondisi yang kita jumpai. Lantas, bagaimana dengan masyarakat Indonesia ? Empati sangat wajib kita tunjukkan dalam kiprah perilaku nyata. Dari perspektif nilai, bangsa Indonesia dikenal memiliki kearifan lokal yang sudah diakui oleh dunia internasional. Bangsa Indonesia dikenal dengan keramahan dan kesopanannya. Juga, karakter keindonesiaannya yang guyup, rukun, gotong-royong sudah mendunia, termasuk di dalamnya karakter empati. Secara operasional perilaku empati apa yang dapat kita lakukan dalam pandemi nasional ini. Empati memungkinkan kita untuk membayangkan bagaimana seandainya aku di posisi dia orang lain, dan berani memberikan sebagian miliknya kepada pihak lain (Al-Yamin et al., 2021).

Tan Wei cit. Christiawan (2020) ahli wabah, sebagaimana dikutip Shanghai Daily mengungkapkan cara yang paling efektif dalam melawan Covid-19 adalah adanya 'best effort' dari seluruh elemen. Pemaknaan 'best effort situation' adalah masing-masing masyarakay maupun pemerintah menunjukkan upaya terbaiknya bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat lainnya. Best effort strategy merupakan kebalikan dari ignorance. Strategi menerapkan upaya terbaik pada masing-masing masyarakat tidak terbatas pada pemerintah saja. Dalam hal ini upaya terbaik (best effort) juga perlu dilakukan dalam hubungan antarmasyarakat, artinya setiap masyarakat harus memiliki best effort baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat sekitar. Dengan demikian, masyarakat akan saling menjadi penolong pada masyarakat serta hubungan pemerintah dan masyarakat akan didasari pada upaya terbaik untuk saling menolong dan melindungi sesama masyarakat dari Covid-19. Dengan demikian, baik persebaran Covid-19 maupun pertumbuhan area terdampak dapat berkurang dan pada akhirnya masyarkat dapat terbebas dari pandemi Covid-19 yang mengancam kehidupan masyarakat.

Pada sila ke-dua Pancasila yang mengandung makna warga negara Indonesia mengakui adanya manusia yang bermartabat (bermartabat adalah manusia yang memiliki kedudukan dan derajat yang lebih tinggi serta harus dipertahankan dengan kehidupan yang layak), memperlakukan manusia secara adil dan beradab di mana manusia memiliki daya cipta, rasa, niat dan keinginan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia. Jangan sampai dengan adanya wabah ini jiwa kemanusiaan kita memudar dengan berbuat semena-mena terhadap saudara sebangsa kita (Hafid, 2020).

 

Unarmed War Heroes

Pahlawan-pahlawan di zaman sekarang ada di mana-mana dan mereka tidak membawa senapan, karena musuhnya adalah keserakhan, kemiskinan, ketamakan, kebodohoan, keterbelakangan (Pageh et al., 2020), keegoisan, tak peduli dengan kemanusiaan, acuh tak acuh terhadap lingkungan. Mereka adalah Unarmed War Heroes. Para pahlawan perang tanpa senjata yang tiada pangkat dan tanda jasa.

Kini, berjuang selayaknya pahlawan tidak hanya bisa dilakukan dengan menenteng senjata melawan penjajah. Namun, berperang melawan pandemi dengan cara-cara sederhana yang bisa dilakukan seluruh elemen masyarakat, baik perseorangan maupun secara berkelompok. Mematuhi protokol kesehatan menjadi bentuk perjuangan masa kini yang bisa dilakukan masyarakat di manapun dan kapanpun berada, terutama saat beraktivitas di luar rumah (Muallifa, 2020).

Untuk menjadi pahlawan di masa pandemi, tidak harus memiliki kekayaan berlimpah terlebih dahulu seperti Bento dalam lirik lagu Iwan Fals. Menjadi pahlawan di masa pandemi bisa kita lakukan sesuai kemampuan yang kita miliki saat ini. Yang punya kelebihan rezeki, bisa menyediakan cantelan sembako di depan pagar rumah masing-masing, bisa mentransfer dana untuk aksi sosial pihak lain, atau bisa juga menyumbang tenaga untuk mejadi relawan di tempat penampungan penderita Covid (Margianto, 2021).

Masyarakat baik secara mandiri maupun komunal bisa memerangi hoaks dan infodemi. Caranya juga mudah, cukup bergabung dan ikut terlibat dalam grup-grup diskusi antihoaks yang ada di Facebook seperti Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage Indonesian Hoaxes, Grup Sekoci, Grup Turn back Hoax, dan grup-grup lainnya yang berikhtiar melawan hoaks dan propaganda. Dalam grup-grup tersebut, masyarakat bisa membangun diskusi terkait isu apa saja yang terindikasi hoaks, termasuk seputar infodemi vaksin COVID-19. selain masyarakat umum, para pemuda pun harus bangkit melawan hoaks dan infodemi yang ada. Jika dahulu para pahlawan merebut kemerdekaan dengan cara menghadapi penjajah dari negeri antah-berantah, maka pada zaman cyberspace ini anak- anak bangsa harus berjuang memerdekakan diri dan lingkungan dari hoaks yang memecah belah keutuhan NKRI. Generasi muda hendaknya menjadi agen perubahan yang tidak boleh diam, melainkan mulai mengambil langkah untuk menyebarkan konten-konten positif di jagad maya. Semangat tersebut bisa ditularkan melalui artikel  ataupun konten kreatif sehingga engagement positif di  jagad maya menjadi semakin luas. Dengan demikian, narasi-narasi infodemi, hoaks, dan provokasi tidak akan mendapat tempat yang serius dalam percakapan publik di jagad maya. Semuanya akan kembali pada asalnya, yaitu “hocus pocus;” sesuatu yang ditertawakan karena dianggap lucu dan tidak dianggap sebagai suatu kebenaran, apalagi sampai dipercaya (Kadju, 2021).

Membangun kesadaran pentingnya perilaku memang adalah hal yang penting untuk dilakukan semua orang sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus di masa pandemi ini. Setiap orang harus merubah pola pikir tentang pentingnya menjaga kebersihan, setiap orang harus membangun kesadaran untuk tidak egois dan patuh pada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah berkenan dengan usaha pencegahan dan penyebaran COVID-19 (Fathiyah).

Diri sendiri disiplin mematuhi 3M merupakan pahlawan di masa pandemi COVID-19.  Mematuhi protokol kesehatan dengan konsisten menjalankan 3M maka seseorang sudah menjadi pahlawan bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat. Konsistensi dan kontinuitas dalam mengingatkan dan menjalankan protokol kesehatan dengan melaksanakan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M), baik untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat umum menjadi salah satu faktor untuk tidak menularkan COVID-19. Membudayakan perilaku 3M menjadi penting dalam membantu penanganan COVID-19.

Kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia dan salah satu unsure kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik ndonesia Tahun 1945. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi sebab setiap orang berhak atas kesehatan, sekaligus menjadi kewajiban moral bagi setiap orang untuk ikut serta program vaksinasi agar terwujud kekebalan komunal (herd immunity) bagi seluruh warga negara dunia (Sutikno, 2020).

 

Semua bisa menjadi Hero

            Dalam Peraturan Menteri Sosial (Permensos) RI NO 15 Tahun 2021, Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial RI, setiap orang, lembaga negara, kementerian,lembaga pemerintah non kementerian,pemerintah daerah, organisasi atau kelompok masyarakat dapat mengajukan usulan pemberian gelar pahlawan dan harus memenuhi syarat umum dan khusus (Aryanto, 2013).

            Tanpa mengesampingkan dan mengabaikan hal tersebut di atas, dalam mengisi kemerdekaan pun tiap orang dituntut untuk menjadi pahlawan, pahlawan dalam segaka bidang kehidupan meskipun dalam skala diri sendiri. Memang, kita tidak ikut mengangkat senjata dan mengorbankan nyawa seperti para pejuang di masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Oleh karena itu, tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dalam mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Siapapun bisa menjadi pahlawan, paling tidak, dengan menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan menjadikan nilai-nilai kepahlawanan sebagai pola pikir, pola sikap dan pola tindak dalam kehidupan sehari-hari (Aryanto, 2013).

            Pahlawan ialah orang-orang yang memperjuangkan dengan kerja keras dan memanifestasikan dirinya untuk hal baik dan benar. Kini, di era pandemi kita tetap harus berjuang menormalisasikan keadaan, maka pahlawan tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan namun, kondisi pandemi sekarang kita dapat menjadi pahlawan terlebih dokter dan Nakes (Mulyaningsih, 2020).     

            Di masa-masa sulit ini perlu lebih banyak lagi sosok-sosok pahlawan yang dengan sukarela menyingkirkan setiap kesedihan dan kepedihan, perlu lebih banyak persatuan dan gotong royong untuk membuat negeri ini kembali bangkit dan bersinar. Semua perlu iuran memberi terang. Semoga kita segera merdeka dari pandemi Covid-19 (Huda, 2021).

Kesadaran dan kepedulian yang telah tumbuh pada masa pandemi dapat dilanjutkan dalam rutinitas di masa yang akan datang. Kegagalan dan keberhasilan menjadi bahan pembelajaran menuju loncatan kesuksesan selanjutnya. Masa pandemi bukan masa untuk berdiam diri di rumah saja dan kaum rebahan menjadi pahlawan, namun tetap di rumah saja dengan terus mengalirkan kebermanfaatan terhadap sesama, hal ini akan menjadi bukti bahwa kita adalah manusia yang selamat dan menyelamatkan. Kondisi saat ini bukan mematikan rutinitas kita, hanya menambah tantangan untuk peningkatan diri (up-grade) diri dan tetap berutinitas. Tetap berharap dan tetap semangat (Khairani et al., 2020).

            Maka siapapun bisa menjadi pahlawan dalam perjuangan melawan covid-19 ini. Para tenaga medis yang berjuang menangani pasien adalah pahlawan. Para relawan yang mengkampanyekan 3M dan protokol kesehatan secara langsung maupun melalui sosial media adalah pahlawan. Mereka yang membuat terobosan dan inovasi agar kegiatan ekonomi kembali berjalan dengan tetap mencegah penularan adalah pahlawan (Mufidayati, 2020).

            Pemerintah pusat dan daerah yang intensif menjalankan 3T (Testing-Tracing-Treatment) dan membuat kebijakan yang mendukung pencegahan penularan covid-19 adalah pahlawan. Para politisi yang terus mendorong pemerintah untuk terus mengendalikan penularan covid-19 malalui anggaran dan kebijakan adalah pahlawan.Para influencer di sosial media maupun para pemimpin di RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama di masyarakat yang terus mengingatkan protokol kesehatan dan penerapan 3M adalah pahlawan. Mereka yang menggalang bantuan untuk keluarga yang terdampak ekonomi akibat covid-19 adalah pahlawan. Maka jadilah kita pahlawan di masa pandemi dengan peran kita masing-masing (Mufidayati, 2020).

Gotong royong adalah khas dan ciri bangsa Indonesia sejak dulu kala. Perlu dipupuk kembali. Perlu disegarkan kembali. Bahwa musuh kita sekarang ini adalah COVID-19.  Wabah COVID-19 ini harus segera musnah dari bumi Nusantara. Bagaimanapun kita harus mampu mengatasi kepenatan, kejenuhan, kelelahan, kesedihan, dan kesusahan masyarakat selama pandemi COVID-19. Langkah konkrit untuk mengajak masyarakat tetap optimis hadapi pandemi. Kita yakin dan optimis bangsa Indonesia tangguh, mampu tumbuh dan keluar dari krisis pandemi. Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh. Indonesia bisa (Risan, 2021).

Pahlawan kemerdekaan memiliki karya besar berupa pikiran dan tindakan dalam rangka perjuangan kemerdekaan. Ada perjuangan melalui gerakan massa baik bersenjata atau tidak, ada juga berupa gerakan intelektual dan gerakan ekonomi. Sekarang bukan lagi era perjuangan kemerdekaan. Sekarang adalah era mensyukuri kemerdekaan. Mensyukuri kemerdekaan yang terbaik adalah dengan karya yang menyejarah. Karya yang menyejarah akan selalu menginspirasi (Satria, 2019).

Yang kita hadapi sekarang bukan lagi musuh yang bisa mati dengan tembakan peluru ataupun tusukan bambu runcing. Lalu, siapakah pahlawan pada masa kini ? Serta apa itu pahlawan masa kini ? Pahlawan masa kini adalah orang yang berkontribusi secara nyata demi kepentingan orang lain dan negaranya dalam kebaikan yang didukung dengan rasa tanpa pamrih dan rasa puas untuk melayani sebagai imbalan bagi dirinya. Kita bisa menjadi pahlawan masa kini dengna kemampuan diri kita masing-masing yang kita kuasai betul. Entah itu diri kita sebagai engineer, pejabat publik, olahragawan, penulis, CEO, manajer, bahkan petani sekalipun atau kita yang masih berstatus sebagai pelajarpun juga dapat menjadi pahlawan masa kini (Dewi, 2018). Jelas bahwa menjadi pahlawan di era kekinian tidaklah sesulit untuk menjadi pahlawan di masa kemerdekaan. Dan seorang pahlawan tidak akan pernah berharap pengakuan dari manapun bahwa dia adalah seorang pahlawan (Gaffar, 2020).

Perjuangan tidak mengenal jeda. Di hadapan kita sekarang terbentang beragam persoalan yang membutuhkan pahlawan-pahlawan masa kini (Redaksi Anri, 2014). Salah satu persoalan yang dihadapi ialah COVID-19.

Marilah kita menjadi pejuang masa kini, merdeka dari Covid. Tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga menjaga saudara-saudara yang kita kasihi dan lingkungan kita dengan terus memegang disiplin protokol kesehatan (Anonim, 2021).

Akhir tulisan, mengutip buku “Fenomena Masyarakat  di Era Pandemi Covid-19” oleh  Nasution (2021) Corona namamu,kau mempunyai nama, namun tak pernah dipandang mata, hanya dengan menggunakan alat canggih supaya kau terlihat, dan tubuhmu yang mungil, kecil, tapi virusmu virus terbesar di dunia, kau tidak memiliki mata, tidak memiliki tangan, kaki, hidung, mulut layaknya seperti manusia tapi mengapa kau lebih kejam dari seorang pembunuh. Sudah cukup kau buat kami lelah, sudah cukup kau buat kami resah, bumi kami menangis melihat penghuninua tak nyaman berada di dunia. Semoga kau tak terulang lagi tuk yang ketiga kalinya, akibat kerasukan dari negara asing yang rakus,tamak,dan sombong, sehingga kami juga ikut tersiksa akibat ulah mereka (Nasution, 2021).

DAFTAR PUSTAKA

Abryandoko, E. W. 2020. Antara Harapan dan Realita Kebijakan Kampus Merdeka di Tengah Adaptasi New Normal. In: Abryandoko, E. W., Gusriani, F. Mar'i, Ilyas, K. Prayoga, L. Amdriani, R. P. Wibawa, R. Zulfikar, T. I. Solikah, U. Qomariyah, D. Adriyanto, Akhidyatul, dan A. F. Umara (Eds.) Kampus Merdeka : Transformasi Media Pengajaran Kampus Merdeka di Era Kenormalan Baru. Syiah Kuala University Press, Aceh, p: 5-9.

Achmadi, R. Z. 2020. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Masa Pandemi Covid 19 : Studi Kasus pada Angkatan Muda Partai Golkar di Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Skripsi. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Aidah, S. N. dan Tim Penerbit KBM Indonesia. 2020. Corona Melumpuhkan Dunia. Kbm Indonesia, Yogyakarta.

Al-Yamin, S., Andri, Iwandi, N. Jualiana, Rinaldo, Julia, Fakhrurrozi, I. Safitri, Hendrizal, dan D. Mustika. 2021. Mengurai Beang Kusut Covid-19. Penerbit Adab, Indramayu.

Anonim. 2021. Peringati Kemerdekaan Indonesia, Maranatha Ajak Para Pegawai untuk Menjadi Pahlawan Covid-19. < http://news.maranatha.edu/peringati-kemerdekaan-indonesia-maranatha-ajak-para-pegawai-untuk-menjadi-pahlawan-covid-19/>. Diakes tanggal 15 September 2021

Aristya, F., A. M. Al Fath, dan Z. K. Mabruri. 2017. Nilai Kepahlawanan dalam Pembelajaran IPS Sekolah Dasar Studi Konseptual. <https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/9070/15.pdf?sequence=1&isAllowed=y.>. Diakses tanggal 24 September 2021.

Aryanto, B. I. 2013. Pahlawan, Masih Adakah ?. Swantara No.7 Th.II: 10-13.

Christiawan, R. 2020. Politik Hukum Kontemporer : Covid dan Normal Baru Hukum. Murai Kencana, Depok.

Dewi, S. S. 2018. Perjuangan Seorang Pahlawan yang Tak Kenal Lelah In: (Eds.) Ikbal, A. S., A. Dandy, A. M. M. Umar, A. Safitri, A. W. Afkarina, A. D. Mirza, A. Mentari, A. Amini, Damayanti, D. Rahmawati, D. Wijayanti, D. Lestari, D. Y. Hartini, E. Widayati, F. M. Abarang, F. Damayanti, H. A. Al-Giffari, H. Humairah, H. L. Ramadhan, H. W. Widayanti, Ipporaif, J. T. Aqimuddin, J. Prawinata, K. Nuzulanisa, K. Anshari, K. Pratidina, L. Ervita, Lutfiyah, L. N. Petrovaskaya, Maryanah, M. W. Silaban, M. I. Rahmawati, M. Idsan, M. Zuhaida, S. Mustika, N. R. Jannah, N. Anjarwati, N. Insadani, N. Imamah, N. Laela, Nurlaela, Nurwahyuni, Padila, R. Priyanto, R. Hidayat, R. L. Saqila, R. Astuti, R. Amalia, R. Djabar, R. Cahyani, R. H. Fadillah, R. Z. M. Nurramdlani, R. D. I. Wahyuni, S. Nugraha, Shabrina, S. Nurbayani, S. S. Dewi, S. Julaeha, S. R. Janah, S. T. Nurfaizah, S. Rahayu, Suhartati, T. Nufus, T. Y. Guselandari, dan Y. Iswanti. Perjuangan. Jejak Publisher, Sukabumi, p: 264-267.

Fathiyah. 2020. Virus Corona vs Virus Medsos. In: Gani, N. S.,  Fathiyah, N.  D. Sidabutar, A. D. Fitriana, A. M. Sila, R. Fitriani , A. Yuliarti, F. Thalib, B. Hermansyah, M. Aslam, Wandi, M. Sahid, dan N. J. Umar (Eds.) Covid 19 dalam Bingkai Komunikasi. IAIN Parepare  Nusantara Press, Parepare, p: 89-99.

Gunawan, A. 2019. Heroisem Tanpa Senjata. Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya. Universitas Islam Indonesia. D. I. Yogyakarta, Yogyakarta.

Hafid, M. S. 2020. PANCASILA & COVID-19 Refleksi Nilai-Nilai Pancasila terhadap Pandemi Covid-19. CV Air Mata Indonesia, Malang.

Hafid, M. S. 2020. PANCASILA & COVID-19 Refleksi Nilai-Nilai Pancasila terhadap Pandemi Covid-19. Cetakan pertama. CV Air Mata Indonesia, Malang.

Hardiman, F. B. 2015. Seni Memahami : Hermeneutik dari Schlermacher sampai Derrida. Kanisius, Yogyakarta.

Huda, M N. 2021. Iuran Memberi Terang : Mengurai Nilai Kepahlawanan di Masa Pandemi. <https://www.antaranews.com/berita/2312526/iuran-memberi-terang-mengurai-nilai-kepahlawanan-di-masa-pandemi>. Diakses tanggal 5 Oktober 2021.

Kadju, F. E. D. 2021. Vaksinasi Nasional di Tengah Gempuran Hoaks dan Infodemi Vaksin COVID-19. Kominfonext Edisi 26 : 82-97.

Khairani, M., M. Mawarpury, dan E. Meinarno. 2020. Ragam Cerita Pembelajaran Dari COVID-19. Syiah Kuala University Press, Aceh.

Lestamanta, S. P. 2017. Semua Orang Bisa Jadi ‘Hero’. <https://lpmecpose.com/2017/11/10/semua-orang-bisa-jadi-hero/>. Diakses tanggal 22 September 2021.

Mappong, S. 2020. Mencari pahlawan di tengah pandemi COVID-19 Suriani Mappong          Selasa, 10 November 2020 <https://www.antaranews.com/berita/1832744/mencari-pahlawan-di-tengah-pandemi-covid-19>.  Diakses tanggal 5 Oktober 2021.

Margianto, H. 2021. Pahlawan-pahlawan di Tengah Pandemi. < https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/28/101731965/pahlawan-pahlawan-di-tengah-pandemi?page=all >. Diakses tanggal 15 September 2021.

Muallifa, R. N. L. 2020. Semua Orang Bisa Jadi Pahlawan di Masa Pandemi, Ini Penjelasan Satgas Covid-19 Jatim. <https://www.merdeka.com/jatim/semua-orang-bisa-jadi-pahlawan-di-masa-pandemi-ini-penjelasan-satgas-covid-19-jatim.html?page=all>. Diakses tanggal 15 September 2021.

Mulyaningsih, S. 2020. Hari Pahlawan: Jadi Pribadi Bermanfaat Bagi Sekitar di Masa Pandemi. <http://rdk.fidkom.uinjkt.ac.id/index.php/2020/11/09/hari-pahlawan-jadi-pribadi-bermanfaat-bagi-sekitar-di-masa-pandemi/>. Diakses tanggal 22 September 2021.

Nasution, W. H. 2021. Fenomena Masyarakat di Era Pandemi Covid-19. Penerbit Adab, Indramayu.

Pageh, I. M., I. W. P. Yasa, dan K. S. Arta. 2020.  Geger Batavia : Kepahlawanan Ida Made Rai Dalam Perang Banjar Menentang Kolonialisme Belanda Tahun 1868. Lakeisha, Klaten.

Paramitasari, D. 2020. Konsistensi Menerapkan 3M.  MEDIAEFKAGAMA Vol. 14 Ed. 4:34-35

Parawati, E. D. 2021. Agama dan COVID-19 Perspektif Aqidah dan Filsafat Islam. Guepedia, Bogor.

Redaksi Anri. 2014. Nilai-nilai Kepahlawanan. Majalah Anri Edisi 64 : 4.

Saputra, R. D. 2021. Esensi dan Urgensi Pancasila sebagai Dasar Negara. <https://osf.io/pt2mr/download>. Diakses tanggal 13 September 2021.

Satria, A. 2019. Semua Orang Bisa Menjadi Hero. <https://www.republika.co.id/berita/q1xh9j282/semua-orang-bisa-menjadi-emheroem>. Diakses tanggal 22 September 2021.

Sutikno, A. C. P. 2020. Vaksin Covid-19 sebagai Pemenuhan Hak Asasi Manusia. LexRenaisance Vol. 5 No. 4 : 81

Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Responsive Advertisement